Jumat, 27 November 2020
   
Ukuran Teks

Warung Indonesia di Balad

Bagi jamaah haji atau umrah Indonesia, nama Balad tidaklah asing. Tempat ini menjadi salah satu tujuan kunjungan wajib mereka yang ingin membeli oleh-oleh buat sanak saudara dan tetangga di tanah air.

“Barang bagus barang murah, silahkan mampir”. Demikian terde-ngar sapaan penjaga toko ketika melihat orang Indonesia yang berbelanja di daerah pertokoan di kota Al Balad, Jeddah.

Pak Mansur, salah satu jemaah umrah dari Jakarta yang sering bolak-balik ke Tanah Suci, sambil bercanda mengatakan “rasanya nggak afdhol kalau nggak tawaf ke Balad”.

Karena banyak warga Indonesia yang senang berbelanja, maka ada beberapa pengusaha setempat asal Bangladesh yang pandai melihat peluang dan kesempatan untuk meraup rejeki dari kocek “wisatawan religi” Indonesia ini. Tengok saja di dekat Chorniche Commercial Center yang juga jadi salah satu pusat keramaian di wilayah Balad.

Ada Toko Ali Murah, Toko Kurma Gani Murah, Toko Karpet Noor Murah dan kios-kios lainnya yang memakai nama depannya Toko dan di belakangnya kata Murah. Untuk menarik pelanggan penjaga toko juga menawarkan kemudahan kepada calon pembeli dapat membayar dengan rupiah. Sehingga orang yang tadinya tidak ingin membeli, akhirnya merogoh sakunya.

Namun tidak banyak “wisatawan religi” Indonesia mengetahui latar belakang Balad yang merupakan cikal bakal berdirinya kota Jeddah. Al Balad kalau diterjemahkan artinya “kota”. Al Balad adalah kota tua di distrik Al Ammariyah, Jeddah yang di bangun di pinggir laut Merah sebagai kota nelayan yang berusia 2500 tahun.

Sampai saat ini di Balad, masih banyak dijumpai bangunan-bangunan antik dengan ciri-ciri khas yang tidak dijumpai di kota-kota lainnya. Kondisi dan bentuk bangunan di wilayah Balad ini, oleh pemerintah Saudi Arabia tetap dipertahankan seperti apa adanya.

Dinding bangunannya tidak tegak lurus, seperti kebanyakan bangunan modern. Kemungkinan orang yang membangunnya tempo dulu tidak mengenal dan menggunakan bandul, sehingga bentuknya tidak beraturan.

Ada yang miring ke kanan dan ada yang miring ke kiri. Kekhasan lainnya adalah jendela dan balkon yang terbuat dari kayu dan tertutup sekat berlobang selain sebagai ventilasi juga untuk melihat. Balkon ini seolah-olah menyatu dari lantai bawah sampai atas. Jalan antara rumah satu dengan lainnya juga sempit bahkan ada yang lebarnya seperti gang-gang di kampung.

Kini Balad berkembang menjadi pusat kota Jeddah dan sebagai pusat perdagangan, baik untuk kebutuhan sehari-hari rumah tangga maupun barang-barang lainnya. Banyak perusahaan besar berkantor pusat di Balad, demikian juga toko-toko yang menjual pakaian atau barang fashion dengan merk ternama dapat dijumpai. Silahkan buktikan sendiri.

* Konsul ekonomi KJRI Jeddah



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP

Cari Artikel

Halaman Facebook