Rabu, 28 Oktober 2020
   
Ukuran Teks

Miniatur Paris di Asia Tenggara

"Walaupun ibukota Laos ini masih belum jadi kota metropolitan, namun penuh dengan nuansa unik. Vientiane didominasi kuil-kuil berstupa emas dan mengandalkan Sungai Mekong sebagai sentra wisata dan hiburan."


Vientiane… Apa yang terbersit di benak anda ketika mendengar nama ibukota Laos ini? Vientiane atau dibaca Vien Cang, sesuai dengan logat aslinya, sebenarnya tidak terdengar seperti nama kota di Asia Tenggara lainnya. Memang, nama Vientiene terkesan masih agak kebaratbaratan, sebagai warisan pemerintahan Perancis yang pernah lama menjajah Laos. Kalau diperhatikan, di setiap sudut Vientiane, ibukota Laos yang mungil ini, masih sangat terasa nuansa peninggalan Perancis dalam bentuk bangunan-bangunan tua yang masih tersisa.


Selama tiga hari, Tim AKSES berkesempatan mengunjungi Vientiane untuk melihat langsung kota itu dari dekat, sekaligus melakukan liputan mengenai peluang-peluang bisnis di Laos bagi para pengusaha Indonesia. Berikut adalah kesan yang ditangkap Tim AKSES dalam liputan yang singkat di Vientiane.

Jika dibandingkan dengan ibukota negara Asia Tenggara lainnya seperti Jakarta, Kuala Lumpur atau Bangkok, Vientiane jelas masih jauh lebih sederhana. Tak ada gedunggedung pencakar langit di sini. Jalanjalan raya pun boleh dibilang masih lengang. Namun, Vientiane memiliki nuansa yang unik. Misalnya, banyak pagoda atau kuil–kuil berbentuk stupa berwarna emas di setiap sudut kota. Hal itu menggambarkan kultur kehidupan masyarakat Laos yang sangat religius dan tradisionalis.

Di jalan-jalan pusat kota Vientiane, banyak kendaraan umum berwarna warni sejenis tuk tuk, yang berseliweran, tak jarang membawa orang asing. Kendaraan bertenaga motor ini merupakan moda transportasi yang paling praktis di Laos, karena bisa diberhentikan di mana saja dan dapat mengantarkan penumpangnya ke mana saja, seperti halnya Bajaj di Indonesia.

Mini Paris

Dalam perjalanan menuju ke kantor KBRI, Tim AKSES melihat pemandangan yang sangat unik, setelah memasuki kawasan Rue Lane Xang. Di jalan raya utama di kota Vientiane tersebut, terlihat deretan pohon yang membentuk garis lurus dan di ujung jalannya terdapat sebuah gapura besar. Sekilas mengingatkan pada Avenue des Champs-Élysées dan Arc de Triomphedi Paris. Namun ketika didekati, ternyata Victory Gate atau Monument Aux Morts gapura tersebut dibuat dengan ukiran tradisional Laos. Pengunjung dapat naik ke puncak monument tersebut untuk menikmati pemandangan kota Vientiane dari atas. Namun sayangnya karena belum tersedia lift, pengunjung harus menaiki ratusan anak tangga untuk mencapai kepuncaknya.

 



Kuil Emas

Landmark kota Vientiane lainnya yang kerap ramai dikunjungi wisatawan adalah Pha That Luang, yakni kuil berbentuk stupa emas terbesar di Vientiane. Kuil ini masih digunakan untuk beribadah seharihari umat Buddha di Laos. Di dalam kompleks That Luang, banyak terdapat bangunan-bangunan dengan arsitektur khas Laos, patung-patung tempat peribadatan agama Budha dan juga patung Budha tidur raksasa. Setiap tahun di bulan Oktober, rutin diadakan That Luang festival yang biasanya didatangi oleh biksu-biksu dari Thailand, Vietnam dan Kamboja.

Sungai Mekong


Sungai Mekong merupakan sumber air tawar terbesar di Laos. Pusat hiburan banyak dipusatkan di sekitar sungai ini. Pada sore hari sebelum matahari terbenam, banyak warga Vientiane menghabiskan waktunya untuk berjalan-jalan atau berolahraga di sepanjang sisian sungai Mekong. Jalan di tepi sungai memang telah diaspal dan dibebaskan dari kendaraan bermotor, sehingga nyaman untuk berjalan kaki. Setelah matahari terbenam, rata-rata pengunjung berpindah mengunjungi pasar malam yang menjual berbagai barang termasuk pakaian dan pernak pernik khas Laos.



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP

Cari Artikel

Halaman Facebook