Rabu, 28 Oktober 2020
   
Ukuran Teks

Strategi dan Tantangan Diplomasi Ekonomi di Afrika

Strategi dan Tantangan Diplomasi Ekonomi di Afrika


Kementerian Luar Negeri mendapat mandat untuk turut menyukseskan komitmen Indonesia masuk ke Afrika, sebagai salah satu target pasar non tradisional. Tujuannya adalah meningkatkan perekonomian nasional, seiring dengan meningkatnya ekspor kita ke Afrika. Tentu, hal ini tidak mudah. Perlu kerja keras dan strategi yang matang.

Dalam perbincangan dengan AKSES, ternyata Direktur Afrika Ditjen Asia Pasifik dan Afrika, Daniel Tumpal S. Simanjuntak, memiliki moto untuk “menaklukkan” Afrika. Meminjam veni-vidi-vici ala Julius Cesar, bapak yang menjabat direktur sejak akhir 2016 ini memegang prinsip “seeing is believing, touching is convincing,” untuk masuk ke Afrika.

Makna dari prinsip ini, Tumpal menjelaskan, adalah langsung datang ke Afrika, melihat dan melakukan promosi di sana. Yang dibawa adalah program konkret, seperti fasilitas skema pembiayaan, pembentukan Preferential Trade Agreement (PTA) baik secara bilateral maupun dengan institusi ekonomi regional, diplomasi infrastruktur, penambahan perwakilan Indonesia, serta penunjukan beberapa konsul kehormatan baru.

Langkah konkret yang telah dilakukan adalah menyelenggarakan Indonesia – Africa Forum (IAF) yang baru dilaksanakan kali pertama. Forum yang berlangsung 10-11 April 2018 itu, menjadi jembatan dalam rangka mendekatkan dan memfasilitasi pertemuan para pelaku usaha Indonesia dan Afrika. “IAF tercatat menghasilkan kesepakatan bisnis sebesar lebih dari USD 586 juta (Rp 8 trilyun), khususnya di bidang infrastruktur, industri strategis, dan skema pembiayaan,” tutur pria kelahiran 1972 ini.

Selanjutnya, ia menjabarkan tips sukses menembus pasar Afrika berdasarkan pengalaman beberapa perusahaan Indonesia yang telah eksis di sana. Pertama yang harus dilakukan adalah melakukan preliminary dan comprehensive market research.

“Di samping itu, pelaku usaha juga harus passionate, serta menjalin sinergi dengan badan atau institusi terkait untuk penyediaan data awal yang diperlukan terkait regulasi, budaya, dan aspek terkait lainnya.”

Sedikitnya ada 30 perusahaan Indonesia di benua Afrika. Mayoritas di antaranya, berada di Nigeria. Secara umum, perusahaan kita itu masuk dalam dua kategori, yaitu yang berorientasi ekspor dan investasi.

Dari sisi kebijakan, Tumpal menambahkan, dirinya sepakat untuk menjalankan garis kebijakan Kementerian Luar Negeri dengan melakukan diplomasi ekonomi yang memiliki multiplier effect. Artinya, hubungan dagang dengan Afrika tidak sebatas melakukan ekspor. Lebih dari itu, kita mendorong investasi ke negara-negara Afrika sehingga pembangunan yang kita lakukan di sana bisa menimbulkan multiplier effect, baik bagi kita maupun penduduk di Afrika. Salah satu contohnya adalah investasi di bidang infrastruktur.

Melengkapi usaha diplomasi ekonomi ini, Direktorat Afrika saat ini menginisiasi pembentukan Outbound Investment. Ini akan menjadi sarana pencatatan yang selama ini belum tercatat dengan baik, dan menjadi database bersama bagi institusi/ lembaga atau kementerian terkait di Indonesia.

Namun, Tumpal yang selalu tampak enerjik ini tidak menafikan adanya hambatan. Menurutnya, masih ada pengusaha yang melihat praktik free trade di Afrika sebagai ancaman. Apalagi, sudah ada Tiongkok dan India yang investasinya cukup menggurita disana. “Menurut saya, kedua negara tersebut tidaklah perlu ditakuti atau dianggap sebagai kompetitor".

Mereka dapat menjadi komplementer dengan Indonesia. Menurut saya, Indonesia mempunyai peluang pasar tersendiri, di samping negara-negara Afrika juga memiliki keinginan diversifikasi mitra dagang, selain dengan Tiongkok dan India,” tutupnya.

 



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP

Cari Artikel

Halaman Facebook