Rabu, 28 Oktober 2020
   
Ukuran Teks

Mintardjo Halim: Peluang, Tantangan dan Trik Masuk ke Pasar Afrika

 

Dulu Afrika tidak begitu dilirik untuk dijadikan mitra dagang. Namun kini, dengan membaiknya citra dan tingkat perekonomian, Indonesia mulai serius untuk masuk ke Benua dengan jumlah populasi lebih dari 1,2 milyar itu. Afrika dipandang sebagai pasar tujuan ekspor dan investasi non tradisional yang memiliki potensi yang sangat besar. Data menunjukkan, volume perdagangan antara Indonesia dan Afrika di 2018 mencapai US$ 11,04 miliar, naik 21,51% dari tahun 2017. Tren ini terus tumbuh signifikan. Setidaknya ada 30 perusahaan Indonesia yang berinvestasi di sana.

Bagaimana Kamar Dagang dan Industri (KADIN) RI melihat fenomena ekonomi ini? Untuk menggali lebih jauh bagaimana peluang, tantangan dan trik pengusaha Indonesia untuk masuk ke negaranegara Afrika, Tim AKSES mewawancarai Ketua Komite Afrika KADIN, Mintardjo Halim.

Menurut Direktur Utama PT. Sandratex ini, potensi pasar Afrika sangat besar. Namun ia pun mengakui kalau masih ada beberapa hambatan yang harus dihadapi oleh para pengusaha, maupun stakeholders kita. Ia pun memberikan salah satu triknya untuk bisa sukses masuk ke benua terbesar ketiga di dunia itu, yakni dengan langsung datang untuk melihat kondisi real di Afrika. Untuk lebih lengkapnya, mari simak petikan wawancara kami berikut ini:

Apa peran KADIN dalam mendukung perekonomian nasional?

KADIN sudah lama berdiri. Namun memang tidak semua orang mengetahui apa peran dan fungsinya. KADIN cukup aktif di pemerintahan khususnya setelah tahun 2000. KADIN dengan aktif membantu pemerintah menyelesaikan berbagai permasalahan di sektor ekonomi, seperti ekspor/ impor dan permasalahan lainnya yang dihadapi pengusaha Indonesia.

Bagaimana pandangan KADIN tentang peluang pasar di Afrika?
Pasar Afrika memiliki potensi yang besar untuk dimanfaatkan pengusaha Indonesia. Di masa mendatang, benua Afrika merupakan benua yang akan berkembang dengan pesat. Indonesia sendiri sudah melihat peluang-peluang yang ada dan terus berupaya untuk mengembangkan pola kerja sama perdagangan dan investasi dengan negara-negara Afrika.

Apa yang sudah dilakukan KADIN untuk menangkap peluang-peluang tersebut?

Dalam beberapa tahun terakhir, KADIN telah dan terus bekerja sama dengan pemerintah dalam hal ini kementerian terkait untuk mendorong adanya perjanjian penurunan tarif dengan negara-negara Afrika. Banyak negara di sana yang mematok tarif cukup besar, yakni sekitar 30-45%.

Apa saja tantangan dalam mewakili dan memperjuangkan kepentingan pelaku usaha Indonesia di Afrika?
Permasalahan utama yang dihadapi sebenarnya lebih terkait dengan kurangnya kepercayaan pelaku usaha Indonesia terhadap Afrika itu sendiri. Dengan tidak adanya kepercayaan, maka pebisnis cenderung tidak mau mengambil risiko. Dalam dunia usaha, tentu saja semua ingin untung. Hal ini menyebabkan banyak produk dari negara-negara Afrika dibeli melalui negara ketiga di Amerika, Eropa, dan juga Asia, seperti Singapura dan Malaysia.

Afrika memiliki citra yang cukup negatif di Indonesia. Bagaimana KADIN melihat situasi ini?

Pengaruhnya cukup besar karena memiliki dampak terhadap market trust. Namun, kita tetap berupaya untuk masuk ke pasar Afrika bukan hanya melalui ekspor tapi juga investasi.

Bagaimana koordinasi KADIN dengan kementerian/ lembaga dan perwakilan RI?
Sejauh ini hubungan KADIN dengan kementerian/ lembaga teknis terkait berjalan dengan sangat baik. Dalam beberapa tahun terakhir, KADIN bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perindustrian khususnya untuk pembahasan perjanjian penurunan tarif.

Sudah adakah kerja sama dengan komunitas bisnis internasional?
Sudah cukup banyak. Khusus dengan negara Afrika, sudah ada agreement dengan Afrika Selatan, Uganda, Mozambik, Nigeria, dan Ethiopia.

Apa saran atau kiat bisnis masuk ke pasar Afrika?
Untuk masuk ke pasar Afrika, kita harus datang dan melihat langsung situasi real di sana. Setidaknya membuat suatu studi tentang bagaimana business environment dan regulasi di negara tersebut. Kemudian yang perlu diperhatikan adalah isu lain, seperti situasi politik, infrastruktur, tenaga kerja, serta apakah negaranya sendiri sudah siap.

 



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP

Cari Artikel

Halaman Facebook