Minggu, 27 September 2020
   
Ukuran Teks

RI Inisiasi Visi Pariwisata Pasifik:Towards One Pacific Destination

Kita bersaudara, kita satu keluarga, dan kita membangun kolaborasi bersama untuk mengembangkan pariwisata bersama

Indonesia dan negara/ teritori di Pasifik telah sepakat untuk memajukan sektor pariwisata di kawasan. Dalam Tourism Forum, salah satu event dalam rangkaian kegiatan Pacific Exposition, 11 Juli 2019 di Auckland, Selandia Baru, Indonesia mengajukan gagasan visi pariwisata “Towards One Pacific Destination”.

Melalui tema yang diangkat, RI bersama dengan negara/ teritori di Pasifik memiliki spirit yang sejalan dalam memajukan sektor pariwisata sebagai motor penggerak sosio-ekonomi di kawasan. Menteri Luar Negeri RI, Retno LP Marsudi dalam opening ceremony Pacific Exposition menegaskan bahwa Indonesia akan terus terlibat secara aktif dalam upaya peningkatan potensi perdagangan investasi, dan kolaborasi bisnis pariwisata yang konkret. Menlu menegaskan “Kita bersaudara, kita satu keluarga, dan kita membangun kolaborasi bersama untuk mengembangkan pariwisata bersama.”

Mengapa pariwisata yang dipilih sebagai ujung tombak pengembangan kawasan Pasifik? Tak lain karena secara alamiah, wilayah Pasifik terkenal dengan keindahan alamnya yang memukau. Pasifik dianugerahi keindahan lautnya yang jernih, ombak yang tenang, pantai berpasir putih yang bersih, pulau-pulau yang hijau dan alami kaya akan hasil alam serta penduduknya yang ramah dan bersahabat.

Bagi negara-negara Pasifik, pariwisata merupakan salah satu tulang punggung perekonomian nasional. Misalnya di Fiji. Data dari World Travel and Tourism Council 2018 menunjukkan bahwa sektor pariwisata Fiji menyumbang total kontribusi kepada pemasukan negara sebesar 40,3% dari PDB (senilai US$ 1,9 milyar) pada tahun 2017.

Angka ini diprediksi terus mengalami rata-rata peningkatan tahunan hingga 5% pada 2028, yang berarti dapat menghasilkan pendapatan negara sebesar 43,4% dari PDB (senilai US$ 3,2 milyar). Dengan jumlah pengunjung tahunan sebanyak 842.884 orang, industri pariwisata di Fiji juga telah berhasil menciptakan 118.500 buah lapangan kerja atau 36,5 % dari total jumlah lapangan kerja yang tersedia pada 2017.

Pariwisata juga merupakan kesempatan emas bagi Pasifik untuk menciptakan peluang-peluang baru, membangun pintu gerbang untuk menarik investasi dan perdagangan. Apalagi, negara-negara di Pasifik hampir seluruhnya memiliki rencana menjadikan pariwisata sebagai tulang punggung ekonomi wilayahnya. Sehingga kolaborasi dalam sektor pariwisata yang erat dan maju dapat diandalkan menjadi penghasil devisa yang signifikan dan berkelanjutan di masa depan.

Manfaatkan Momentum Pasifik

Pada Forum Pariwisata di Auckland, telah ditampilkan kolaborasi kesenian oleh artis dan seniman dari Indonesia, Selandia Baru dan Tonga. Kolaborasi tersebut membuat para audience sangat terkesan karena melambangkan kesamaan budaya, kekompakan dan kebersamaan sebagai satu rumpun bangsa Melanesia. Ini berarti bahwa untuk menciptakan “One Pacific Destination” yang besar dan maju, dibutuhkan kekompakan dan kebersamaan yang mengangkat nilai-nilai budaya Pasifik yang sama.

Menteri Pariwisata RI 2014-2019, Arief Yahya menyatakan bahwa pariwisata merupakan salah satu industri dengan perkembangan paling pesat di dunia. Dalam hal ini, dibutuhkan upaya mengemas (packaging) dan branding pariwisata di Pasifik agar menjadi lebih menarik bagi wisatawan untuk datang.

Dubes RI untuk Selandia Baru, Samoa dan Kerajaan Tonga, Tantowi Yahya menjelaskan bahwa “One Pacific Destination” adalah cara Pasifik merespon kawasan lain di dunia yang bersatu, berkolaborasi, membuat paket wisata untuk beberapa destinasi di beberapa negara, seperti di Uni Eropa dan ASEAN.

Hal senada diungkapkan Minister for Pacific Peoples, Selandia Baru, Aupito William Sio yang melihat bahwa sesama warga di Pasifik harus ada di garda terdepan dalam pengembangan sustainable tourism dengan fokus pada pengelolaan sektor pariwisata yang maju untuk kesejahteraan komunitas lokal.

Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan program pengembangan paket produk destinasi bersama, promosi bersama, baik B to B, maupun G to G, antar negara, pembangunan SDM bersama serta membuat Rencana Strategis Pembangunan Pariwisata berjangka panjang.

Melalui gagasan integrasi pariwisata ini, diharapkan wisatawan dari Amerika, Eropa, Tiongkok, Timur Tengah dan Asia yang berkunjung ke kawasan ini dapat menikmati keindahan alam serta keunikan budaya Pasifik.

Tantangan dan Peluang di Depan

Namun di sisi lain, sektor pariwisata di kawasan Pasifik masih memiliki sejumlah tantangan. Di antaranya, masih minimnya konektivitas antara tourism destination satu dengan yang lain. Tidak adanya penerbangan langsung, lemahnya infrastruktur serta kurang memadainya transportasi laut menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh semua pihak.

Diperlukan kerja sama erat dan kemitraan antar negara untuk mengatasi tantangan konektivitas, misalnya dengan meng-engage perusahaanperusahaan penerbangan dalam upaya menghubungkan Pasifik Selatan dan Pasifik Utara.

Selain itu perlu mempertimbangkan pembukaan berbagai alternatif akses. Misalnya Tuvalu, yang selama ini hanya bisa diakses melalui Fiji, dicarikan alternatif akses dari tempat lain seperti melalui Kiribati. Saat ini, Air Kiribati tengah mempertimbangkan untuk membuka jalur penerbangan ke Tuvalu pada tahun 2020.

Sektor pariwisata Pasifik juga perlu berupaya untuk menciptakan branding pariwisata yang spesifik untuk dijual kepada wisatawan. Di antaranya dengan menonjolkan keunikan wilayah Pasifik yang tak ditemui di tempat lain di dunia untuk membantu menciptakan “Pengalaman Pasifik” bagi wisatawan yang berkunjung.

Di samping itu, perlu dipikirkan untuk mengembangkan branding dan sustainability destinasi wisata, mengingat Pasifik adalah wilayah yang rentan terkena dampak perubahan iklim. Pemanasan global dan ancaman naiknya permukaan air laut dapat menenggelamkan pulau-pulau di kawasan.

Sementara dari sisi sumber daya manusia, negaranegara Pasifik menghadapi banyak tantangan yang harus diselesaikan seperti kemampuan SDM yang kurang memadai, rendahnya upah minimum, dan tingginya migrasi ke negara lain yang menyebabkan berkurangnya jumlah tenaga kerja.

Dalam mengatasi tantangan dimaksud, ada dua strategi yang bisa digunakan. Pertama, peningkatan daya saing sebagai tujuan wisata tunggal. Strategi ini memerlukan kolaborasi aktif negara/ teritori di Pasifik untuk mengintensifkan promosi dan pemasaran, diversifikasi produk pariwisata, menarik investasi pariwisata dan meningkatkan kualitas SDM pariwisata, standar fasilitas pariwisata, dan pelayanannya.

Strategi kedua adalah memastikan pengembangan pariwisata berkelanjutan dan inklusif. Strategi ini dapat dicapai melalui peningkatan partisipasi masyarakat lokal, bersama-sama sektor swasta dan pemerintah dalam pembangunan, memastikan keselamatan dan keamanan, memprioritaskan perlindungan dan pengelolaan situs warisan, dan meningkatkan upaya terhadap pelestarian lingkungan dan perubahan iklim.

Harapannya ke depan, Kawasan Pasifik bisa menjadi ‘the next tourism powerhouse’. Destinasi kelas dunia yang didukung infrastruktur dan konektivitas, beserta sumber daya manusia profesional yang handal.

 



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP

Cari Artikel

Halaman Facebook