Rabu, 28 Oktober 2020
   
Ukuran Teks

Peluang dan Strategi Penetrasi Pasar Pasifik

Direktur Asia Timur dan Pasifik (Astimpas) memiliki segudang visi dan gagasan yang menarik untuk direalisasikan. Dipercaya mengemban amanah sejak April 2019, Direktur Astimpas langsung tancap gas melaksanakan berbagai inovasi kegiatan diplomasi ekonomi dan politik Indonesia dengan negara-negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Tim AKSES menemui Direktur Astimpas, Dr. Santo Darmosumarto di ruang kerjanya untuk menggali lebih dalam ide mengenai peluang dan strategi untuk penetrasi ke pasar Pasifik serta visi ke depan hubungan kerja sama Indonesia dengan negara-negara di Pasifik.


Berikut petikan wawancara Tim AKSES dengan salah satu Direktur termuda di Kementerian Luar Negeri

Bagaimana Pemerintah memandang negara-negara di kawasan Pasifik ?

Secara geografis, Indonesia terletak di antara dua Samudera, Pasifik dan Hindia. Posisi geografis ini menjadikan Indonesia secara aktual merupakan bagian dari kawasan Pasifik. Dalam kaitan ini, upaya pemerintah dalam memajukan kerja sama dengan kawasan Pasifik juga didasari oleh fakta bahwa Indonesia adalah bagian tak terpisahkan dari Pasifik. Belum lagi kedekatan budaya dan sejarah antara Indonesia dan negara-negara di Pasifik.

Apa kepentingan utama Indonesia di Pasifik ?

Terdapat beberapa kepentingan Indonesia di Pasifik. Dalam bidang ekonomi, diakui selama ini kita belum melihat Pasifik sebagai kawasan yang potensial untuk dilakukan kerja sama ekonomi. Tetapi saat ini perlu dilakukan revisi atas pandangan tersebut. Dengan jumlah penduduk kawasan Pasifik yang mencapai 11 juta orang, Pasifik adalah kawasan potensial untuk dilakukan kerja sama ekonomi.

Tidak hanya mengenai Indonesia yang meng-explore market Pasifik melalui penetrasi produk-produk, jasa dan lain-lain. Sebaliknya, Indonesia bisa melihat potensi impor produk-produk raw materials dari Pasifik untuk kemudian diberikan added value dan diekspor kembali sebagai produk Indonesia. Indonesia dan negara-negara Pasifik hadapi permasalahan serupa, baik, terkait konektivitas, pembangunan SDM, perikanan dan pertanian.

Masalah-masalah sama yang dihadapi kedua pihak ini membuka peluang untuk bekerja sama dalam hal capacity building. Dari sisi politik, meskipun ukuran negaranya ratarata relatif kecil dan ekonominya masih berkembang, tetapi suara yang mereka berikan di forum-forum internasional tetap bermakna. Dalam forum seperti di PBB atau Pacific Islands Forum (PIF), penting untuk mendekatkan diri dengan mereka agar membantu posisi Indonesia di berbagai isu yang penting. Selain itu, dalam bidang budaya, Indonesia dan Pasifik memiliki banyak kesamaan budaya. Ikatan kebudayaan yang terbangun erat dapat menjadi modal untuk bersama-sama melakukan penguatan kebudayaan lokal dalam menghadapi era globalisasi.

 

Negara-negara Pasifik sebagian besar berukuran kecil dengan perekonomian yang mungil, lantas apa keuntungan melakukan kerja sama ekonomi dengan Pasifik ?

Sejalan dengan gagasan Global Maritime Fulcrum yang dicanangkan oleh Pemerintah, bahwa Indonesia dapat menjadi hub konektivitas, yang menghubungkan tidak saja ke Afrika atau Asia Timur, tetapi juga ke Pasifik. RI punya kepentingan untuk memajukan konektivitas di kawasan. Dengan terbangunnya konektifitas yang baik, maka cost untuk logistik dan akses yang jauh dapat diperbaiki. Ini dapat menjadi peluang di masa depan.

 

Apa langkah-langkah yang harus dilakukan untuk tingkatkan kerja sama ekonomi ?

Pertama adalah peningkatan kapasitas. Dengan meningkatnya kapasitas mereka tentunya akan meningkatkan purchasing power yang nantinya akan meningkatkan kemampuan untuk membeli produk Indonesia dan memproduksi barang-barang yang bisa diekspor ke Indonesia. Di sini ada elemen peningkatan kapasitas dan juga elemen investasi dari Indonesia ke Pasifik. Kedua adalah promosi produk Indonesia yang dilakukan melalui berbagai cara, seperti menggunakan perwakilan RI di Fiji, PNG, dan Selandia Baru. Ketiga menyelenggarakan forum-forum komunikasi dan kerja sama, seperti Indonesia-South Pacific Forum (ISPF) pada bulan Maret 2019 di Jakarta dan Pacific Exposition 11-14 Juli 2019 di Auckland, Selandia Baru. Pacific Exposition ini merupakan perhelatan besar negara-negara Pasifik pertama, dan yang membanggakan, pihak penyelenggaranya adalah Indonesia. Keempat, upaya meningkatkan accessibility dua arah, bagi produk Indonesia di Pasifik dan produk Pasifik di Indonesia. Di antaranya melalui dicanangkannya kerja sama Preferential Trade Agreement (PTA) antara Indonesia dengan Fiji dan Papua Nugini. Rencana ini diluncurkan di sela-sela kegiatan ISPF, 20-21 Maret 2019 di Jakarta.

 

Hasilnya sesuai harapan?

Kegiatan Pacific Exposition menghasilkan business deal dan business commitment cukup besar, yakni USD 70 juta/ NZD 104,5 juta. Angka ini di atas prediksi kita sebelumnya. Harapannya dapat mendorong adanya business deal selanjutnya dengan nilai yang lebih besar.


Pada saat memberikan sambutan di Pacific Exposition, Ibu Menlu sempat menyinggung tentang “Pacific Elevation”. Bisa dijelaskan lebih lanjut ?

Pacific Elevation merupakan tema pendekatan kita (Indonesia) dengan negara-negara di Pasifik. Intinya kita berupaya untuk meningkatkan presence (kehadiran) kita di Pasifik. Misalnya melalui kebijakan penyelenggaraan forum-forum seperti ISPF dan Pacific Exposition, maupun partisipasi kita pada forum MSG (Melanesian Spearhead Group), PIF (Pacific Islands Forum), PIDF (Pacific Islands Development Forum). Keberadaan kita bisa diintensifkan di Pasifik baik secara bilateral ataupun multilateral. Selain itu upaya kehadiran Indonesia didorong juga dengan pembukaan hubungan diplomatik dengan Niue dan Cook Islands yang secara resmi dilakukan di sela-sela Pacific Exposition Juli 2019. Secara umum dapat dikatakan bahwa Pacific Elevation merupakan upaya peningkatan kehadiran kita di Pasifik berdasarkan pilar-pilar kerja sama terkait capacity building, kemitraan ekonomi, peningkatan ikatan kultur antara Indonesia dan negara-negara Pasifik.

 

Untuk mencapai hasil optimal, dibutuhkan kerja sama dengan K/L lain. Bagaimana sinergi dengan K-L lain?

Sinergi yang terbangun dengan K/L lain selama ini cukup baik. Ini terlihat dalam penyelenggaraan Pacific Exposition, ketika masing-masing K/L menjadi leader dalam kegiatan yang menjadi tupoksinya. Forum budaya di-lead oleh Kemdikbud, forum bisnis dipimpin oleh Kemdag dan dalam forum pariwisata, Kemenpar yang menjadi penanggung jawab. Belum lagi peran KBRI Wellington yang sangat penting sebagai inisiator dan pelaksana utama kegiatan. Kemlu melakukan koordinasi erat dan tindak lanjut yang konkret melalui kerja sama dengan K/L terkait sesuai bidang dan tupoksinya masing-masing.

 

Saran bagi Perusahaan Indonesia yang akan masuk Pasifik ?

Keberanian. Berani keluar dari comfort zone dengan hanya merasa cukup beroperasi di dalam negeri atau di negara-negara traditional markets. Untuk itu diperlukan pemikiran out of the box dan inovatif untuk dapat berekspansi ke Pasifik. Keuntungan yang akan didapat tidak hanya dari sisi ekonomi tapi juga lebih luas, branding perusahaan, membawa nama Indonesia beserta kebudayaan, nilainilai sosial dan sebagainya. Sehingga misalnya, orang Fiji atau Solomon Islands dapat mengenal Indonesia dari kiprah sektor swastanya seperti produk-produk tertentu atau keterlibatan perusahaan atau pekerja Indonesia dalam proyek-proyek pembangunan di sana.

Sebenarnya di kawasan Pasifik terdapat beberapa perusahaan Indonesia yang melakukan bisnis, tetapi masih melalui pihak ketiga (melalui perantara/ indirect trade) dan ini cukup disayangkan. Saat ini yang perlu ditekankan adalah bahwa Pemerintah akan selalu hadir bagi pengusaha Indonesia yang berminat terjun ke Pasifik. Pemerintah akan terus melakukan pendampingan, memberikan advice yang bisa menjadi clue untuk kembangkan bisnis di Pasifik.

Ahmad Muhammad

 

 

 



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP

Cari Artikel

Halaman Facebook