Rabu, 28 Oktober 2020
   
Ukuran Teks

Produk Unggulan Palembang Perlu Didukung untuk Bersaing di Pasar Global

Palembang hari ini adalah sebuah kota dengan warisan budaya yang beragam dari banyak bangsa dan agama. Ibu Kota Sumatera Selatan ini telah membentuk dirinya mulai dari budaya Melayu sampai Tiongkok, dari Agama Hindu dan Budha sampai Islam. Semuanya turut membangun cerita besar Bumi Sriwijaya dengan begitu banyak keunikan budaya.

Dari sekian banyak produk budaya di Palembang, kami berkesempatan mengenal dua di antaranya, Pempek dan Kain Songket. Hal ini terjadi dalam rangkaian Economic Outreach untuk meningkatkan diplomasi ekonomi di Palembang, 4-6 April 2019.

Kegiatan ini adalah kolaborasi Kementerian Luar Negeri dengan Pemda se-Sumatera itu, untuk menyinergikan program kegiatan Trade Tourism and Investment (TTI) di Kawasan Aspasaf. Itulah mengapa tema yang diambil adalah, “Potensi Daerah dalam Promosi Ekonomi, Perdagangan dan Investasi di Pasar Non Tradisional Kawasan Asia Pasifik dan Afrika.”

Di Kota yang pernah menjadi pusat Kerajaan Buddha terbesar di Asia Tenggara itu, kami disambut baik perwakilan Pemda Sumatera Selatan, Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, Ahmad Rizali. Menurutnya, Economic Outreach memungkinkan terjadinya sinkronisasi program antara pemerintah pusat dengan daerah dalam upaya mendongkrak UMKM daerah, agar produknya bisa diterima dan bersaing di pasar global.

Berkunjung ke Produsen Pempek

Pempek diyakini mulai ada sejak abad ke-16, ketika para perantau asal Tiongkok masuk ke Palembang. Hal ini diperkuat dengan dugaan kata Pempek berasal dari kata apek yang berarti paman atau panggilan tetua etnis Tionghoa.

Untuk mendalami wawasan terkait pempek, kami menyisihkan waktu untuk berkunjung ke Pempek Beringin di Jl. Kolenel H. Burlian No.19, Karya Baru. Maksud kunjungan kami ke salah satu produsen pempek populer ini adalah untuk mengenal challenge, product capacity dan market outreach dari produk Pempek Beringin tersebut.

Di sana kami diterima oleh Dicky Purwadi. Generasi kedua dari pendiri Pempek Beringin ini bercerita bahwa Pempek Beringin dirintis oleh kedua orangtuanya pada akhir 1970-an. Ibunya yang membuat pempek, sedangkan Sang Ayah menjualnya berkeliling dengan gerobak dari siang hingga sore hari.

Kini Pempek Beringin sudah memiliki 11 cabang toko di Palembang dengan 400 karyawan. Ketika kami tanya apa ada rencana untuk membuka cabang di luar Palembang, Dicky menjawab tidak. “Kami ingin para wisatawan berkunjung ke Palembang langsung untuk mencicipi Pempek kami dengan citra rasa khas asli Palembang”, jelasnya.

Kami diperkenankan melihat proses produksi dari awal sampai siap disajikan. Semuanya memenuhi standar kesehatan. Sambil menyantap pempek, Dicky menjelaskan bahwa dalam sehari Pempek Beringin dapat menghabiskan 100 kg ikan. Untuk Ikan yang digunakan adalah ikan sungai, yaitu ikan putak yang mirip belida dan gabus. Rahasia yang membedakan Pempek Beringin dengan pempek lain berada pada rasa cuko. Kuah berkelir cokelat pekat ini dibuat dengan bahan baku cabe, bawang putih, cuka putih, sayur asin kering tong cai, dan gula merah.

Pempek Beringin menyediakan bermacam kategori pempek, di antaranya adaan, lenjer kulit, bentuk kerupuk, telur kecil, bentuk pastel, panggang, isi tahu, kapal selam. Ada pula otak-otak, model, lenggang

goreng, serta lenggang bakar.

Harganya pun sangat pocket friendly, misalnya seluruh pempek yang berukuran kecil harganya sama, yaitu Rp 4.000. Adapun pempek kapal selam yang jadi favorit pembeli harganya Rp 25.000, sama dengan harga pempek lenggang. Sementara, untuk 50 biji pempek campur dihargai Rp 200.000.

Dicky menambahkan bahwa produknya tidak hanya digemari oleh wisatawan lokal saja, namun juga oleh wisatawan asing. Banyak wisatawan asing yang memborong produknya untuk dijadikan oleh-oleh saat berkunjung ke Palembang. Namun demikian, untuk mass production hingga mencapai pasar global, Dicky mengakui bahwa produknya belum siap. Hambatannya adalah belum berpengalaman dan belum ada partner untuk menjembatani hal tersebut.

Rumah Busana Tria


Hangatnya sambutan di Pempek Beringin berlanjut kami rasakan saat berkunjung ke Rumah Busana Tria. Dimulai 19 tahun yang lalu, Rumah Busana Tria dirintis oleh Tria Gunawan sebagai usaha keluarga dengan memaksimalkan uang pesangon yang didapatkan dari orang tuanya.

Berfokus pada pola, motif dan songket khas Palembang, Tria menjual berbagai macam produk dari mulai kain bahan, selendang, hingga pakaian jadi. Harganya pun bervariasi mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Dengan keunggulan kualitas dan variasi produk yang dimilikinya, Tria berhasil meraih berbagai penghargaan tingkat nasional, salah satunya Upakarti Kategori IKM Modern dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2006.

Untuk mengenalkan produknya, Tria sering mengikuti pameran di luar negeri. Mulai dari negaranegara di Asia Tenggara sampai Amerika Serikat. Dari sana, Tria sering mendapatkan permintaan supaya produknya bisa diekspor. Namun peluang bagus ini belum bisa ia penuhi.

Salah satu tantangan terbesar baginya untuk masuk ke pasar internasional adalah terkait waktu produksi yang tidak bisa dipersingkat. Produk Songket Palembang yang ia buat, memakan waktu lama.Untuk satu helai kain saja, pembuatannya sampai tiga bulan. Sehingga ia tidak mampu memenuhi permintaan pasar yang besar.

Selain itu, produk-produk Tria membutuhkan metode perawatan khusus yang terbilang cukup rumit. Hal ini menimbulkan keengganan saat konsumen ingin membelinya. Untuk itu, Tria memutuskan untuk tetap fokus pada pasar domestik, dengan tetap memenuhi undangan pameran di luar negeri.

Tria sadar, untuk bertahan di pasar lokal dan masuk ke pasar internasional, kuncinya ada di inovasi. Saat ini, ia berkisah, sedang melakukan percobaan untuk membuat produk kain dengan teknik cetak. Metode ini dapat memotong waktu produksi secara signifikan sekaligus menurunkan harga jugal produknya. Selain itu, ia juga mencoba untuk berinovasi menampilkan pola dan motif baru yang disenangi pasar.

Khusus untuk pasar dalam negeri, Tria mulai merambah pasar online melalui situs resminya walau belum mau menggunakan berbagai platform market place yang ada. Ke depan, Tria mengharapkan adanya intervensi pemerintah khususnya untuk ketersediaan bahan baku yang berkualitas dan murah.

Kisah Tria dengan rumah busananya memberi inspirasi bagi Kementerian Luar Negeri untuk terus melakukan pendekatan ke daerah demi menemukan potensi ekonomi. Pemerintah pusat harus membangun sinergi dengan pemerintah daerah untuk mengembangkan potensi tersebut, memberikan solusi terhadap banyak tantangan, sampai berkiprah di pasar internasional.

Makin penasaran dengan rasa nikmat Pempek Beringin dan keindahan kain songket? Ayuk sisihkan waktu senggang ke Palembang. Mari bersama kita dukung produk lokal untuk bisa diterima dan bersaing di pasar global.

 



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP

Cari Artikel

Halaman Facebook