Minggu, 27 September 2020
   
Ukuran Teks

Membumikan Diplomasi Ekonomi Kawasan Garis Wallacea

 

Siapa yang belum pernah mendengar Labuan Bajo dan Pulau Komodo? Kedua destinasi wisata unggulan Indonesia tersebut terletak di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang menjadi lokasi tujuan kunjungan sosialisasi Tim Diplomasi Ekonomi Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf) yang dipimpin Sesditjen Aspasaf, Rossy Verona.

Kunjungan ke kampung halaman goyang Maumere ini merupakan implementasi strategi “jemput bola” dan sinergi dengan pemerintah daerah. Tujuan kunjungan ini antara lain untuk menggali potensi produk unggulan daerah serta UMKM siap ekspor ke kawasan Afrika maupun kawasan Aspasaf lainnya. Selain itu, juga untuk membumikan kisah sukses Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue (IAID) 2019 khususnya pada kalangan Pemerintah Provinsi NTT dan akademisi dari Universitas Nusa Cendana (Undana).

Sebagai informasi, saat ini Pemprov NTT sedang melakukan upaya edukasi kepada UMKM di NTT yang belum menyadari potensi pasar internasional khususnya Kawasan Aspasaf. Mereka juga sedang berupaya mengembangkan pelabuhannya menjadi pelabuhan yang mandiri dan terkoneksi internasional sehingga dapat melakukan perdagangan langsung sehingga tidak harus melalui Surabaya.

Kemudian, Pemprov NTT saat ini tengah mencanangkan program “Masyarakat Ekonomi NTT” sebagai salah satu upaya mendorong kemandirian ekonomi melalui industrialisasi. NTT tidak lagi menjadi penyuplai barang mentah, tapi mampu memproduksi barang jadi.

Mungkin banyak dari kita telah mengenal kain tenun NTT yang juga telah mendunia itu. Namun, selain tenun, NTT juga kaya akan hasil bumi seperti jambu mete, garam, rumput laut, kopi, cokelat, dan pariwisata. Ragam produk ini dipasarkan ke Tiongkok, Argentina, Jepang, Australia, Timor Leste, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, dan beberapa negara di Eropa. Bahkan, daun kelor juga akan diekspor ke Jepang setelah seluruh perizinan ekspor telah rampung.

Dalam kunjungan kali ini, ikut serta Tim Indonesia Eximbank cabang Denpasar dan PT WIKA. Kehadiran Indonesia Eximbank untuk menyampaikan produk-produk jasa yang dimiliki pada pelaku UMKM antara lain pinjaman biaya ekspor, konsultasi menembus pasar ekspor secara gratis, dan pelatihan bagi eksportir baru. Indonesia Eximbank punya target untuk mencetak 7.000 eksportir baru dalam satu tahun, termasuk dari kalangan UMKM. Sementara PT WIKA berkesempatan memaparkan success story produk dan jasanya yang sudah merambah ke pasar Timur Tengah dan Afrika.

Terakhir adalah kunjungan ke Universitas Nusa Cendana (Undana). Rektor Undana Prof. Ir. Fredrik L. Benu, .Si, Ph.D, sangat mengapresiasi kegiatan kolaborasi yang dilakukan Kemlu dan BUMN yang diakuinya sangat jarang dilakukan.


Sebagai upaya membuka peluang kerja sama, Fredrik menyampaikan bahwa Undana memiliki Pusat Keunggulan di bidang pertanian lahan kering yang sangat cocok untuk diterapkan di negara Afrika sub-Sahara. Selain itu, terdapat juga potensi kerja sama pembangunan kapasitas yang dapat dijajaki oleh Undana dengan United Nations Environment Programme (UNEP) di Kenya.

Seperti pepatah “tak kenal maka tak sayang”, Tim Diplomasi Ekonomi Ditjen Aspasaf sebelum kembali ke Jakarta, berkesempatan berkunjung ke pabrik kain tenun serta produksi olahan makanan lokal. Tim mengenal secara langsung potensi produk berpeluang ekspor serta melihat destinasi wisata yang dapat dipromosikan kepada wisatawan di sekitar kota Kupang.

 

 



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP