Minggu, 27 September 2020
   
Ukuran Teks

Mengaktifkan Kembali Jalur Pelayaran Indonesia-India

 

Andaman dan Nikobar mungkin asing di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia jika dibandingkan kota-kota lain di India seperti New Delhi, Mumbai, bahkan Chennai. Padahal, apabila melihat peta, jarak India ke Indonesia diukur dari Indira Point menuju Pulau Sabang hanya berjarak sekitar 125 km. Jarak tersebut hampir sama dengan jarak tempuh Jakarta - Bandung melalui jalan tol.

Andaman dan Nikobar menyimpan sejumlah potensi kerja sama ekonomi maritim dan jejak sejarah yang berkaitan dengan pelayaran para nelayan dan pedagang kedua negara. Adapun hubungan perdagangan Indonesia dan India telah dibangun sejak abad kelima, di mana Indonesia dilintasi jalur pelayaran India dan Tiongkok.

Berangkat dari kesadaran tersebut, Pemerintah Indonesia telah menjajaki kerja sama konektivitas Aceh – Andaman dan Nikobar. Penjajakan yang dilakukan sejak tahun 2019 merupakan implementasi kebijakan penetrasi ke pasar potensial, serta tindak lanjut dari pertemuan Presiden RI Joko Widodo dengan Perdana Menteri India, Narendra Modi pada bulan Mei 2018.

Serangkaian kunjungan dan pertemuan telah dilakukan para pemangku kepentingan. Dari India ada kementerian terkait, perwakilan pemerintah administrasi Andaman dan Nikobar, tenaga ahli perusahaan pelayaran dan pelabuhan. Sedangkan dari Indonesia ada perwakilan Pemprov Aceh, kementerian/ lembaga terkait di bidang perhubungan, perdagangan, dan perikanan untuk meninjau area kerja sama dan koordinasi antar-lembaga yang dibutuhkan untuk merealisasikan pertemuan kedua pemimpin negara Indonesia dan India.

Pada tanggal 7 Desember 2019 di Aceh, Indonesia dan India telah sepakat menghasilkan dokumen Rencana Aksi (Plan of Action) yang dicapai melalui pertemuan 1st Joint Task Force on Connectivity of Aceh and Andaman Nicobar Islands. Sebelumnya, kedua negara sepakat untuk mengembangkan 6 (enam) area kerja sama, yang terdiri dari perdagangan dan investasi, konektivitas, pengembangan infrastruktur pelabuhan di Sabang, pengembangan sumber daya perikanan yang berkelanjutan, pertukaran budaya dan pengembangan pariwisata, dan kerja sama di bidang pendidikan, teknologi, serta ilmu pengetahuan.

Di sektor perdagangan dan investasi, Indonesia akan berpartisipasi pada lelang proyek pengayaan bahan konstruksi untuk pembangunan di Pulau Andaman dan Nicobar. Selain itu, didorong pula pertemuan antara KADIN kedua negara untuk mengidentifikasi peluang kerja sama bisnis.

Sementara di sektor konektivitas yang menjadi salah satu pokok bahasan penting pada pertemuan Joint Task Force (JTF) tersebut, kedua pihak sepakat untuk mendalami inisiatif kerja sama pelabuhan antara Pelabuhan Sabang dan Pelabuhan Blair. Hal ini diikuti dengan saling kunjung kapal perang angkatan laut dari Indonesia dan India.

Di sektor perikanan, kedua negara sepakat mengembangkan kerja sama berbagi pengetahuan dalam menciptakan ekosistem industri tuna yang berkelanjutan di Samudera Hindia.

Baik Indonesia maupun India menyadari bahwa peningkatan ekonomi, khususnya kesejahteraan kedua negara amat dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusia yang menggerakkannya. Hal tersebutlah yang mendorong agenda kerja sama pendidikan tinggi, yakni penjajakan pembentukan dokumen kesepahaman untuk mendasari pemberian beasiswa dari perguruan tinggi di Aceh bagi pelajar Andaman Nicobar dan sebaliknya.

Pertemuan Joint Task Force tersebut mendapat sambutan positif dari India. Kedua negara juga memandang kerja sama Aceh dan Andaman-Nicobar penting untuk direalisasikan, terlebih Aceh dan Andaman merupakan kawasan strategis yang bersinggungan dengan Selat Malaka, salah satu jalur pelayaran tersibuk dunia.

Rencananya, pertemuan JTF kedua akan diselenggarakan tahun 2020 di India. JTF Aceh – Andaman Nicobar juga telah menginisiasi observasi lapangan oleh perusahaan pelabuhan India RITES Ltd. yang telah melakukan pre-feasibility study. RITES tertarik berinvestasi di Pelabuhan Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (BPKS) Sabang untuk meningkatkan kapasitas pelabuhan dalam menerima kapal-kapal bermuatan besar.

Di lain pihak, Pemprov Aceh juga terus melakukan pembenahan, seperti pengembangan pelabuhan, membangun infrastruktur yang mendukung konektivitas udara dan laut, terutama yang ditujukan untuk keperluan logistik.

Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah pada kesempatan wawancara menyatakan bahwa kerja sama Indonesia dan India di Aceh akan berdampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Aceh. Selain bidang pelayaran logistik, Aceh juga memiliki potensi wisata kapal pesiar, yang apabila direncanakan dengan matang akan mampu mengakomodasi jenis pelayaran cruise Aceh-Andaman-Phuket-Penang yang amat relevan dengan kerangka kerja sama regional Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT).

 



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP