Minggu, 27 September 2020
   
Ukuran Teks

Bangladesh: Pintu Investasi Energi

 

Bangladesh adalah salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi paling cepat di Asia Selatan (hampir 8% tahun 2019) dengan jumlah penduduk sekitar 161 juta dan 64% penduduknya tinggal di pedesaan. Bangladesh menempati posisi negara ke-9 sebagai negara terpadat di dunia.

Pemerintah Bangladesh sedang menggenjot pertumbuhan ekonominya untuk keluar dari kategori Least Development Country (LDC) pada tahun 2024. Industri garmen dan IT Bangladesh sangat sukses. Kita dapat melihat adanya peningkatan kualitas hidup masyarakat Bangladesh baik dalam bidang kesehatan dan pendidikan.

Seiring dengan cepatnya pertumbuhan ekonomi dan industri Bangladesh maka kebutuhan akan energinya juga meningkat. Selama ini sektor energi Bangladesh sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Sekitar 57,37% listrik yang dihasilkan Bangladesh berasal dari gas alam, 25,16% berasal dari minyak berat, 7,23% berasal dari diesel, 2,76% berasal dari batu bara, 1,21% berasal dari tenaga air (hydro), 0,16% dari sumber terbarukan, dan 6,12% berasal dari impor listrik dari negara tetangga.

Dalam 10 tahun terakhir, Bangladesh telah membuat kemajuan yang signifikan dalam meningkatkan kapasitas pembangkit listrik. Pada tahun 2019, 88 persen warga memiliki AKSES ke listrik, dibandingkan dengan 74 persen pada 2016. Sampai dengan Oktober 2019, Bangladesh mempunyai kapasitas listrik terpasang sebesar 18.961MW termasuk pembangkit listrik captive dan kapasitas impor 1.160MW dari India. Jumlah ini masih belum mencukupi dengan kebutuhan listrik Bangladesh. Dengan demikian,  kesenjangan antara persediaan dan permintaan kebutuhan akan listrik semakin melebar dengan cepat dan menjadi tantangan utama bagi sektor energi di Bangladesh, sehingga Bangladesh masih terus mengimpor energi dari negara tetangga.

Permintaan energi nasional juga turut meningkat rata-rata 10 persen setiap tahun, dan permintaan energi diproyeksikan meningkat lebih dari dua kali pada tahun 2030. Untuk melanjutkan pertumbuhan ekonomi negara yang kuat, bisnis, pabrik, dan perusahaan membutuhkan pasokan listrik yang tidak terputus. Saat ini, Bangladeh telah melakukan ekspansi besar-besaran untuk membangun infrastruktur jaringan, namun usaha ini belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, sehingaa masih banyak rumah tangga mengalami pemadaman listrik hingga 14 jam per hari.

Mengatasi hal ini, sejak tahun 2017, Bangladesh telah menjalankan 116 proyek pembangkit listrik senilai 24,73 miliar USD, diantaranya melakukan kerja sama dengan berbagai negara, antara lain dengan Rusia dalam membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang diperkirakan menelan biaya 12,65 miliar USD dan Korea yang bekerjasaman dengan Siemens AG membangun pembangkit listrik berkapasitas 8.000 MW senilai 7 miliar USD, serta China membangun Pembangkit Listrik Tenaga Batubara (PLTB) dengan kapasitas 1.320 MW). Pelaksanaan proyek-proyek tersebut diharapkan dapat meningkatkan persediaan listrik sebesar 10,20% / tahun dan kapasitas pembangkit listrik mencapai 15.351 MW.

Di samping upaya Pemerintah Bangladesh mengatasi kebutuhan energi listrik di atas, pada sisi lain, Pemerintah Bangladesh justru menaikkan harga gas sebesar 60% pada 2018 dari harga yang berlaku pada 2017. Kenaikan tersebut dipicu dari keputusan Pemerintah untuk mencampur 1.000 millions metric cubic feets (MMCF) gas alam cair impor dengan gas alam lokal guna menaikkan suplai dalam negeri di tengah menurunnya produksi lokal. Pemerintah Bangladesh tidak memiliki opsi selain meningkatkan impor serta memotong subsidi.

Booming nya industri dan pembangunan serta meningkatnya kebutuhan energi Bangladesh menjadi peluang bagi Indonesia untuk masuk ke pasar Bangladesh. Merupakan peran pemerintah untuk mendorong BUMN bergerak dengan membuka pintu peluang tersebut melalui G to G.

Pertamina sebagai salah satu BUMN Indonesia sudah masuk ke pasar Bangladesh selama 10 tahun terakhir dengan memasarkan produk pelumas untuk sektor otomotif. Setiap tahunnya Pertamina Lubricants telah memasok sebanyak ±7 kontainer pelumas otomotif di Bangladesh. Dan pada Januari 2020, Pertamina Lubricants sudah melakukan Grand Launching produk pelumas-nya di Bangladesh dengan menggandeng Petro Products Company, sebuah perusahaan minyak Bangladesh. Selain itu, Pertamina Lubricants juga memasarkan produk pelumas pada sektor industri dan specialities di Bangladesh, antara lain Turbine Oil, Compressor Oil, Gas Engine Oil, Marine Diesel Oil, Rubber Processing Oil, Transformers Oil, dan Industrial Gear Oil.

Pemanfaatan pasar Bangladesh tidak hanya dengan menjual retail tapi juga dengan perluasan investasi. Dalam hal ini, Pertamina Lubricants juga sedang melakukan pendekatan untuk berinvestasi di Bangladesh untuk menghasilkan produk un-organic.

Upaya ekspansi investasi Indonesia juga dilakukan oleh PT. Pertamina Power yang sedang dalam proses investasi pembangunan pembangkit listrik Integrated LNG to Power Project berkapasitas 1200 MW senilai 37,17 miliar USD. Proyek pembangunan listrik terintegrasi ini terdiri dari pembangunan independent power producer (IPP), dan combined cycle gas turbine (CCGT) power plant dan diproyeksikan selesai 3 tahun ke depan. Jika proyek ini terealisasi diharapkan Bangladesh Power Development Board (BPDB) akan membeli suplai listriknya dari Indonesia.

 



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP