Minggu, 27 September 2020
   
Ukuran Teks

Perluasan Bisnis di Asia Tenggara

 

Direktorat Asia Tenggara, atau yang biasa disingkat dengan Dit. Astara bertugas mengelola hubungan bilateral Indonesia dengan semua negara-negara anggota ASEAN, serta dengan Timor Leste, Palau, dan Kepulauan Marshall. Direktorat ini berdiri sejak tahun 2017, di mana sebelumnya negara yang berada di dalamnya ditangani oleh Direktorat Asia Timur dan Pasifik. Denny Abdi merupakan Direktur pertama yang ditugaskan memimpin Direktorat Asia Tenggara. Berikut adalah cuplikan wawancara Tim AKSES dengan Direktur Asia Tenggara, Denny Abdi.

Saat ini Pemerintahan di bawah Presiden Joko Widodo menekankan pembangunan pada pertumbuhan ekonomi, mengurangi defisit neraca perdagangan, dan peningkatan investasi. Bagaimana potensi negara-negara yang ditangani oleh Direktorat Asia Tenggara berkontribusi terhadap arahan tersebut?

Dengan adanya arahan Bapak Presiden tersebut, maka kita tidak bisa lagi bekerja dengan prinsip business as usual, Indonesia tidak bisa hanya mengekspor bahan mentah dan menjual apa yang kita punya. Untuk meningkatkan perdagangan dan investasi, kita harus mengubah mindset sehingga produk yang diekspor bukan lagi bahan mentah tetapi yang sudah memiliki nilai tambah tinggi. Untuk ini diperlukan inovasi yang terus menerus, perluasan ekosistem untuk mendukung riset dan pada saat yang sama pengembangan industrinya.

Sekarang kalau kita lihat perdagangan dengan negara-negara di Asia Tenggara, secara keseluruhan masih surplus pada angka 2,42 Miliar USD (data per Desember tahun 2019). Indonesia mengalami surplus dengan 7 negara yaitu: Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Kamboja, Viet Nam, Myanmar, Timor Leste. Sedangkan Indonesia mengalami defisit dengan 5 negara yaitu: Singapura, Laos, Thailand, Palau dan Kepulauan Marshall.

Berdasarkan nilainya perdagangan bilateral, terdapat beberapa negara yang nilainya masih relatif kecil yaitu Kamboja, Laos, Myanmar, dan Timor Leste, masih 1 Miliar USD ke bawah. Dengan demikian masih sangat potensial untuk ditingkatkan, yaitu dengan cara meningkatkan daya saing produk-produk Indonesia sehingga lebih bersaing, baik dari sisi harga maupun kualitas.

Untuk negara-negara Asia Tenggara di mana perdagangan bilateral Indonesia mengalami surplus, perlu dijaga dan ditingkatkan. Contoh dengan Filipina. Produk-produk Indonesia sudah banyak masuk di Filipina, mulai dari consumer goods seperti produk Mayora, Indofood, dan bahkan jaringan Alfamart hingga produksi industri strategis misalnya lokomotif dan gerbang produksi PT INKA, kapal produksi PT. PAL, dan alutsista dari PT. Pindad. Kondisi ini harus dipertahankan dan bahkan terus ditingkatkan dengan cara memberdayakan juga ekonomi lokal.

Perhatian besar perlu diberikan kepada negara-negara di mana Indonesia mengalami defisit perdagangan yang cukup besar seperti dengan Singapura (4,19 miliar USD tahun 2019) dan Thailand (3,24 miliar USD tahun 2019). Dalam hal ini, Indonesia perlu melihat secara jeli di mana potensi ekspor bisa ditingkatkan dan meningkatkan fokus terhadap produk-produk impor yang bisa diproduksi di dalam negeri. Kolaborasi Pemerintah dengan industri dalam negeri yang didukung oleh market intelijen yang kuat dari KBRI terkait perlu ditingkatkan.

Boleh dijelaskan bagaimana potensi negara-negara Asia Tenggara di bidang investasi?

Sebagaimana kita maklumi bahwa semua negara di Asia Tenggara mengandalkan penanaman modal asing untuk menggerakkan ekonominya. Namun pada saat yang sama peluang kerjasama investasi diantara negara-negara Asia Tenggara juga terbuka lebar berdasarkan comparative advantages masing-masing negara.

Untuk PMA di Indonesia, dalam urutan 10 besar, Singapura masuk sebagai investor terbesar dan Malaysia di urutan ke-6. Sedangkan Thailand di urutan ke-11, Filipina di urutan ke-36, Brunei di urutan ke-61, dan Viet Nam urutan ke-82 (data BKPM). Artinya meskipun bersaing, peluang di bidang investasi tetap ada. Kalau dihitung dari data BKPM, keseluruhan investasi dari negara Asia Tenggara berkontribusi 29,13% dari total investasi asing yang masuk ke Indonesia dari seluruh negara di dunia. Sedangkan investasi Indonesia ke negara-negara Asia Tenggara juga sudah mulai menggeliat, contoh per Desember 2019, sudah terdapat 700 gerai Alfamart di Filipina. Wings juga sudah membuka pabrik deterjen di Filipina. Sementara Go-Jek juga sudah masuk ke Thailand, Viet Nam, dan Singapura.

Singapura berinvestasi di berbagai proyek dan di berbagai daerah di Indonesia, misalnya di Batam dan di Kendal Industrial Park, Jawa Tengah. Yang menarik, banyak perusahaan-perusahaan besar Indonesia juga memiliki investasi di Singapura, bahkan memilih Singapura sebagai kantor pusat operasinya. Hal ini perlu kita cermati dan menjadi perhatian dalam membangun hubungan yang makin berimbang.

Untuk meningkatkan berbagai kerja sama kedua negara, termasuk kerja sama ekonomi, perdagangan dan investasi, Indonesia dan Singapura secara regular mengadakan pertemuan tingkat menteri, bahkan kedua kepala pemerintahan juga memiliki forum tahunan yang dikenal Leaders’ Retreat.

Melalui pertemuan ini dibahas berbagai kerja sama yang telah berjalan dan rencana strategis ke depan.

Dengan perkembangan zaman, perekonomian bukan hanya ditopang oleh perdagangan tradisional seperti yang kita kenal, tetapi juga ada yang disebut sebagai ekonomi digital untuk pertumbuhan yang lebih cepat. Bagaimana potensi Asia Tenggara dalam hal ini?

Betul sekali bahwa ekonomi digital memiliki tren pertumbuhan yang sangat tinggi. Pasar ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara diprediksi mencapai 300 miliar USD di tahun 2025. Pada tahun 2019, pertumbuhannya mencapai 100 miliar USD di mana Indonesia merupakan pasar terbesarnya yaitu 40 miliar USD.

Situasi dunia saat ini yang dilanda pandemi virus Covid-19 diprediksi akan berdampak pada perlambatan ekonomi global yang bahkan diprediksi akan tumbuh negatif tahun 2020 ini. Namun demikian sesungguhnya tersimpan peluang bagi pertumbuhan ekonomi digital, bagi negara-negara yang siap dan mampu meraihnya.

Syaratnya dibutuhkan inovasi, teknologi, sumber daya manusia, investasi dan aturan yang kondusif bagi perkembangannya. Indonesia memiliki sejumlah keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara yaitu: penduduk usia muda yang dinamis dan kreatif, sistem demokrasi yang mendorong sikap kritis, terbuka, transparan yang mendorong interaksi dan ide-ide kreatif dan tentunya pasar yang besar dengan kelompok menengah yang terus tumbuh.

Salah satu negara yang memiliki keunggulan kuat dalam ekonomi digital adalah Singapura. Berbagai kelebihan Indonesia tersebut di atas akan terlengkapi dengan jaringan modal, pemasaran dan teknologi yang dimiliki Singapura. Beberapa contoh kerja sama konkret kedua negara adalah berdirinya Block 71 bekerja sama dengan Salim Group. Di Indonesia, Block 71 sudah hadir di Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung.

Kerja sama ekonomi digital kedua negara bahkan telah dicanangkan Presiden Joko Widodo dan PM Lee Hsien Loong pada bulan September 2017 dengan pencanangan Batam sebagai digital bridge. Untuk mewujudkannya, tentunya banyak PR yang harus dilakukan di kedua belah pihak.

Apa yang sudah dilakukan Kementerian Luar Negeri untuk penguatan diplomasi ekonomi di wilayah Asia Tenggara?

Khusus untuk Asia Tenggara, di tingkat domestik, Kementerian Luar Negeri secara aktif memfasilitasi bisnis untuk mendapatkan informasi peluang bisnis di berbagai negara, baik informasi pasar maupun peluang bisnis jangka menengah dan panjang. Selain itu, kita juga membuat standard operating procedure untuk memfasilitasi ekspor dan memperkuat koordinasi Kementerian Luar Negeri, Perwakilan RI di luar negeri dan jaringan pengusaha Indonesia termasuk BUMN. Dalam rangka penguatan inovasi, Kementerian Luar Negeri memfasilitasi kerja sama untuk peningkatan inovasi dan daya saing produk, misalnya antar universitas atau pusat riset di Indonesia dengan mitranya di negara-negara Asia Tenggara.

Ada saran bagi yang ingin mengembangkan bisnis di Asia Tenggara?

Pertama, pastikan jasa atau produk yang hendak dipasarkan memiliki demand yang kuat dan nilai tambah yang lebih baik dibanding produk sejenis sehingga dapat bersaing dengan produk-produk ataupun jasa dari negara lainnya.

Kedua, mempelajari karakteristik pasar, dalam hal ini kebiasaan konsumen di negara setempat, budaya negara setempat, serta peraturan pemerintah mengenai bisnis tersebut. Jangan sampai terlibat bisnis yang melanggar aturan setempat karena ada perbedaan peraturan di setiap negara. Misalnya hendak memperluas bisnis di Indonesia ternyata di peraturan setempat (negara tujuan) bisnis tersebut termasuk ke dalam sektor yang hanya bisa dilakukan oleh Pemerintah atau hanya bisa untuk modal setempat.

Ketiga, perluas network dengan pemangku kepentingan baik pemerintah maupun swasta baik di Indonesia maupun di negara setempat. Termasuk asosiasi, baik asosiasi dalam negeri maupun luar negeri sehingga mendapatkan insights lebih baik. Ada 18 perwakilan Indonesia yang tersebar di kawasan Asia Tenggara siap membantu para pebisnis untuk mengembangkan roda bisnisnya di kawasan.

 

 



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP

Cari Artikel

Halaman Facebook