Minggu, 27 September 2020
   
Ukuran Teks

MDI Ventures Terus Berinvestasi di Tengah Pandemi

 

Anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) yang berbentuk modal ventura, PT Metra Digital Innovation (MDI Ventures) telah menggelontorkan investasi ratusan juta dollar AS sejak berdiri pada 2016. Managing Parner MDI Ventures Kenneth Li menyatakan bahwa saat ini MDI telah berinvestasi di 34 perusahaan rintisan berbasis teknologi (startup) di lebih dari sepuluh negara.

MDI Ventures memfokuskan invetasinya pada perusahaan startup yang berada pada growth stage area (pre Series A) ke atas. Perusahaan-perusahaan tersebut bergerak di bidang e-commerce enabler, financial services, advertising, digital lifestyle, IoT, big data, dan emerging technology. Beberapa di antaranya adalah Sonar, Kofera, Kredivo, Acommerce, Geniee, Whispir, dan Lotus Flare. Bahkan, dua startup binaan MDI Ventures sudah ada yang masuk bursa efek, yaitu Geenie di Jepang dan Whispir di Australia.

Untuk invetasi di luar Indonesia, MDI Ventures berfokus terhadap perusahaan yang mempunyai tingkat teknologi masa depan yang tinggi seperti Space, IoT, dan teknologi terkini lainnya. Dengan begitu, teknologi baru ini dapat dibawa ke Indonesia dan dapat diimplementasikan serta bersinergi dengan produk-produk yang akan ditawarkan oleh Telkom Group.

Untuk mengembangkan sayap bisnisnya, juga mendirikan anak usaha yang telah memiliki lisensi manajemen investasi modal ventura (VCFMC) di Singapura dan Amerika Serikat. Tujuannya adalah untuk memudahkan pihak luar dalam berinvestasi melalui fund MDI.

Sebagai bagian dari PT Telkom, MDI berkontribusi kepada pendapatan Telkom melalui dua pendekatan. Pertama, melalui peningkatan valuasi dari startup yang telah diinvestasi oleh MDI. Kedua, melalui nilai bisnis baru dan  efisiensi biaya yang muncul karena adanya sinergi produk dari Telkom Group dengan startup yang telah diinvestasi oleh MDI.

Dengan berkolaborasi dengan Direktorat Asia Tenggara – Kementerian Luar Negeri, Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar meluncurkan Centauri Fund yang merupakan pendanaan baru hasil kerja sama antara KB Investment Korea dan MDI Ventures sebesar 150 juta USD untuk diinvestasikan ke perusahaan startup Indonesia dan luar negeri. Pada bulan Maret 2020, Managing Partner MDI Ventures, Kenneth Li mengatakan bahwa Group Telkom juga akan mengucurkan 500 juta USD untuk diinvestasikan ke perusahaan-perusahaan startup.

Besarnya dana investasi yang siap dikucurkan oleh MDI Ventures dan berlangsungnya pandemi Covid-19, mendorong tim AKSES Ditjen Aspasaf menemui Kenneth Li untuk mengetahui lebih jauh upaya MDI Ventures dalam investasi di sektor ekonomi digital.

Apakah pandemi Covid-19 banyak mempengaruhi seleksi dan keputusan investasi MDI Ventures?

Secara garis besar tidak terlalu banyak karena sebetulnya MDI berinvestasi ke berbagai sektor perusahaan yang cukup luas. Tetapi untuk sementara waktu mungkin fokus investment akan lebih banyak ke local startup daripada global investment. Beberapa sektor juga mendapat dorongan di dalam pandemi Covid-19 ini seperti startup-startup di sektor pendidikan dan kesehatan. Dari kacamata kami, sektor yang sebelumnya belum pickup, mulai memperlihatkan traksi dan nilai mereka. Keputusan dalam berinvestasi saya rasa akan mengalami perlambatan karena proses kami untuk benar-benar melakukan due diligence di lapangan sangatlah sulit, terlebih hal ini juga mengganggu proses bisnis secara normal. Sebagai investor kita harus bisa melihat bisnisnya pada kondisi normal dan memastikan bahwa startup yang kita investasikan bisa melewati dan bertahan dalam periode seperti ini dan berkembang setelah COVID-19 ini selesai.

Tipe bisnis atau bidang startup apa yang akan menjadi fokus MDI Ventures ke depan untuk diberikan investasi?

Kita sangat terbuka untuk semua tipe bisnis. Fokus kami adalah investasi dalam kategori digital and sustainable business. Ke depan mungin kita juga terbuka untuk sektor kesehatan dan pendidikan yang belum kita fokuskan sebelumnya. Saat ini fokus yang dilihat MDI mencakup Fintech, Logistic, SaaS, dan Deept Tech.

Dengan berkembangnya pandemi Covid-19, kabarnya startups yang mendapat pendanaan dari MDI Ventures juga berkontribusi penanganan Covid-19. Dari sisi apa?

Di awal pandemi ini, kami bersama startup di bawah naungan MDI Ventures membuat satu inisiatif bernama indonesiabergerak.com yang didukung oleh 4 startup binaan nya yaitu Kata.ai, Qiscus, Volantis dan Qlue. Tujuan dari gerakan ini adalah untuk menjadi pusat informasi untuk informasi dan penanggulangan dari Covid-19.

Website ini menyajikan data perkembangan pasien Covid-19 beserta daerah sebarannya. Selain itu terdapat juga informasi-informasi penting seputar penyakit Covid-19 dan cara pencegahannya. Warga juga dapat melaporkan berbagai kejadian yang perlu disampaikan untuk ditindaklanjuti oleh pemerintah maupun aparat berwenang. Seluruh laporan warga yang masuk akan langsung dikirim ke dashboard yang dimiliki oleh pemda setempat, kepolisian dan BNPB.

Seiring berjalannya waktu, ada beberapa startup lainnya yang juga menawarkan solusi-solusi untuk menghadapi Covid-19 ini seperti Paket.id, Alodokter, Opsigo dan PrivyID. Untuk Paket.id kami membantu BNPB dalam mendistribusikan sembako ke berbagai titik. Alodokter membuka layanan chat langsung dengan dokter melalui platform mereka. Opsigo sedang mempersiapkan jumlah kamar yang available di rumah sakit rujukan Covid-19. Dan Privy mendukung upaya Work From Home dengan layanan tanda tangan digital.

Dampak pandemi Covid-19 diprediksi akan sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, tidak hanya di Indonesia, namun juga hampir di seluruh negara. Strategi seperti apa yang akan dilakukan oleh MDI Ventures untuk mendorong perusahaan-perusahaan startup dapat terus berkembang?

Strategi yang kami implementasikan berbeda untuk setiap startup. Tetapi fokus utama kami adalah meminta mereka terus berkembang, paling tidak mempertahankan kondisi yang ada. Menurut saya ini sudah cukup baik. Terkadang beberapa perubahan juga perlu dilakukan saat kondisi seperti ini. Contoh startup di bidang travel, saat ini bisa dibilang traffic dari travel menurun sangat drastis.

Solusinya, startup yang dibina oleh MDI kita ubah sementara dari software untuk hotel management service menjadi hospital management service. Ini merupakan contoh yang lebih ekstrim, tetapi kunci dalam pandemi seperti ini adalah cash flow management. Banyak bisnis tidak melewati masa seperti ini karena tidak memiliki likuiditas. Saya meyakini bahwa ini adalah tes bagi para founder dan management untuk membuktikan kapabilitas mereka menghadapi situasi seperti ini. Mereka yang bertahan saya percaya akan bisa lebih kuat lagi dari sekarang.

Untuk para pembaca yang menggeluti bisnis digital dan ingin memperoleh investasi, bagaimana cara mereka untuk mendapatkan pendaan khususnya dari MDI Ventures?

Di MDI, kami selalu percaya bahwa tim yang kuat menjadi kunci sukses bagi sebuah perusahaan. Kami sangat terbuka untuk investasi di berbagai sektor digital. Hal yang menjadi fokus di MDI adalah apakah startup ini memiliki business model yang kuat dan juga apakah dengan investasi kami mereka bisa berkembang secara exponential. Untuk stage pendanaan kami juga terbuka dari program inkubasi dan akselerasi Telkom Group bernama Indigo, sampai pendanaan tahap lanjutan di MDI Ventures. Beberapa startup yang masih ingin memulai bisa mendaftar di website Indigo, lalu bagi startup yang sudah cukup besar bisa mengirimkan email kepada kami di Alamat E-mail ini dilindungi dari robot spam. Anda perlu mengaktifkan JavaScript untuk melihatnya .

 



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP

Cari Artikel

Halaman Facebook