Jumat, 27 November 2020
   
Ukuran Teks

Wawancara

Delokal: Mengemas Hobi Menjadi Bisnis

 

Sektor pariwisata Indonesia memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan meskipun saat ini geliatnya dihentikan sementara oleh pandemi Covid-19. Salah satu daerah yang telah memanfaatkan sektor pariwisata untuk pertumbuhan ekonomi daerah adalah Yogyakarta.

Data Pemprov Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2018, sektor pariwisata menyerap tenaga kerja sekurangnya 6.747 orang dengan jumlah pendapatan Rp 475 miliar. Untuk meningkatkan peran sektor pariwisata, teknologi informasi juga dimanfaatkan secara optimal.

Salah satu startup lokal Delokal, berfokus pada platform wisata untuk membantu wisatawan menikmati tempat wisata seperti layaknya penduduk lokal. Startup ini bahkan ditampilkan oleh Block71 Yogyakarta saat kunjungan kenegaraan Presiden Singapura Halimah Yacob ke Indonesia tanggal 6 Februari 2020 lalu.

Tim AKSES melakukan wawancara dengan Wildan Maulana, pendiri Delokal untuk mengenal lebih jauh aktivitas mereka serta mencari inspirasi bagi yang hendak mendirikan startup.

Bagaimana Saudara mendapatkan ide untuk mendirikan Delokal?

Boleh diceritakan awalnya?

Hobi saya jalan-jalan. Ketika saya mahasiswa tahun ke-2 di UII (Universitas Islam Indonesia) saya sering ikut lomba di luar kota ataupun di luar negeri. Namun dibandingkan ke luar negeri, saya lebih suka bepergian ke kota-kota di Indonesia. Saya pernah merenung kenapa sektor pariwisata Indonesia masih kalah bahkan dengan Singapura, padahal potensi pariwisata di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan negara-negara ASEAN yang lainnya. Saya kemudian mendirikan startup marketplace local guide “Gidsnesia.” Gidsnesia ikut lomba nasional di Balikpapan pada awal 2017, dan alhamdulillah tim saya menjuarai kompetisi tersebut. Semenjak itu kami optimis dan selalu aktif mengikuti perlombaan nasional. Kami juga berpartisipasi di beberapa kompetisi startup lainnya.

Kami lalu lebih fokus terhadap pengembangan potensi desa wisata berbasis CBT (Community Based Tourism) yang kami beri nama Delokal Smart Village. Kami juga mulai melakukan riset dan implementasi society 5.0 di Delokal Smart Village (DSV), mulai dari pengembangan masyarakat dan potensi desa wisata hingga implementasi teknologi.

Sudah berapa lama Delokal berdiri?

Sejak Februari 2019, namun ide dan semangat Delokal sudah ada sejak awal 2017 ketika masih duduk di bangku kuliah.

Apa tantangan terbesar dalam mendirikan Delokal?

Sebagai milenial, kami memiliki idealisme masing-masing. Kesulitannya adalah menyatukan idealisme kami.

Apa tujuan yang disasar Delokal 5 tahun ke depan?

Mengembangkan potensi desa wisata, membuat lapangan pekerjaan di lingkungan desa wisata, dan menumbuhkan semangat ekowisata.

Apa pelajaran penting yang didapat selama perjalanan mendirikan startup?

Jangan mudah menyerah, terus habiskan jatah gagal hingga kita menemukan formula yang tepat untuk startup yang kita bangun. Selain itu perbanyak silaturahmi, sering mengikuti kegiatan komunitas startup atau bidang yang relevan.

Bagaimana dengan dukungan keluarga dan teman-teman, kira-kira apa yang bisa dilakukan anggota keluarga untuk para pendiri startup?

Dukungan keluarga adalah salah satu alasan Delokal bisa sukses. Doa orang tua menjadi kekuatan terbesar kami. Pada awalnya kami harus memberikan pengertian kepada mereka. Meski tidak membantu atau turun tangan langsung, doa mereka adalah segalanya bagi kami. Alhamdulillah, teman-teman kami juga sangat mendukung, bahkan beberapa menjadi mitra bisnis Delokal.

Ada berapa staf/ karyawan saat ini?

Staf tetap/ fulltime 1 orang, dan staf freelance 2 orang.

Apakah Delokal akan memperluas area wisatanya? Kalau tidak salah baru di daerah Yogya, ya?

Delokal memiliki model bisnis B2C, B2B dan B2B2C. Untuk pasar B2C mencakup daerah DIY dan sekitarnya. Untuk pasar B2B dan B2B2C Delokal sudah bekerja sama dengan Desa Wisata Kampong Teripang di Bintan, Kepulauan Riau. Kampong Teripang juga menjadi salah satu pilot project untuk implementasi fitur terbaru kami, yaitu Delokal Smart Village.

Dengan adanya covid-19 saat ini yang juga turut melumpuhkan sektor wisata, bagaimana Delokal menyikapinya?

Terus berpikir positif. Kami mengambil kesempatan bekerja dari rumah untuk memperkuat Digital Branding Delokal dengan mengisi konten blog. Selain itu kami juga memperkuat analisis untuk fitur terbaru kami, Delokal Smart Village.

Ke depan, sektor wisata Indonesia masih sangat potensial untuk dikembangkan. Data BPS Januari-Agustus 2019, jumlah kunjungan wisawatan mancanegara (wisman) ke Indonesia mencapai 10,87 juta kunjungan. Naik 2,67 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di ASEAN, posisi Indonesia masih berada di posisi keempat, di bawah Singapura, Thailand dan Malaysia. Di tengah perang dagang AS-Tiongkok, jumlah kedatangan wisman ke negara-negara kawasan ASEAN sepanjang 2018 mencapai 136,2 juta kunjungan atau naik 8,34% dari tahun sebelumnya.

Ayo bersatu, tingkatkan pariwisata di bumi nusantara yang sangat kaya dan indah ini.

 

 



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP
   

Cari Artikel

Halaman Facebook