Minggu, 27 September 2020
   
Ukuran Teks

Sorot

Geliat IKM Serambi Mekah untuk Ekonomi Daerah

 

Aceh menyimpan jutaan potensi untuk menjalankan roda perekonomiannya. Sayangnya, Aceh mengawali tahun 2020 dengan menyandang predikat provinsi termiskin di tanah Sumatera. Luka lama musibah tsunami 16 tahun lalu, ditambah berbagai faktor lainnya terus menekan pertumbuhan ekonomi Serambi Mekah ini.

Tidak tinggal diam dengan predikat tersebut, para saudagar dan pelaku usaha di Aceh membentuk ASIA atau Asosiasi IKM (Industri Kecil Menengah) pada 2019. Asosiasi ini sebagai sarana tukar pendapat dan aspirasi para pengusaha untuk meningkatkan perekonomian Aceh dan menjawab tantangan dunia bisnis di Aceh.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) berkesempatan menjadi bagian dari ASIA saat menyaksikan pelantikan Dewan Pengurus Pusat (DPP) ASIA di Gedung Taman Budaya, Aceh, 21 Januari 2020. Acara diisi dengan Seminar Nasional dengan tema “Menyongsong Industri Kecil dan Menengah (IKM) Aceh Menuju Pasar Global.”

Salah satu narasumber adalah Sekretaris Ditjen Asia Pasifik dan Afrika Kemlu, Rossi Verona. Pada kesempatan tersebut, Rossi memberikan informasi mengenai peluang pasar global, terutama pasar-pasar potensial di kawasan Asia Pasifik dan Afrika. Narasumber lain berasal dari perwakilan Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Koperasi dan UKM dan pelaku usaha dari Aceh.

Menurut Teuku Dhahrul Bawadi, Ketua DPP ASIA, pengusaha di Aceh masih bergerak sendiri-sendiri. Maka ia mendorong, supaya seluruh pengusaha di Aceh dapat menyatukan langkah dalam meningkatkan kualitas produk, distribusi, promosi sampai penjualan sehingga mampu bersaing di tingkat global. Harapannya, apa yang diupayakan oleh ASIA berhasil meningkatkan perekonomian, tidak hanya untuk Aceh tetapi untuk skala nasional.

Dalam kurun waktu satu tahun ini, ASIA telah melakukan berbagai upaya untuk membawa produk Aceh ke pasar global. Beberapa kegiatan promosi telah dilakukan di luar negeri, mulai dari misi dagang di Vietnam, Singapura, Malaysia hingga Rusia. Produk kopi dan nilam menjadi contoh produk potensial yang telah menarik minat konsumen mancanegara.

Beberapa produk kopi Aceh berhasil masuk ke lokasi retail di Malaysia. Sementara produk turunan nilam dilirik pengusaha parfum dari Prancis dan dinobatkan sebagai bahan baku parfum terbaik di dunia. ASIA bahkan berencana menyelenggarakan Aceh Trade and Tourism Expo (ATTE) pada tahun ini.'

Apa yang telah dilakukan ASIA perlu mendapatkan dukungan dari banyak pihak. Pemerintah Daerah Aceh sendiri tidak berhenti memberikan sumbangsih. Kemlu juga berkomitmen untuk membantu para pelaku usaha Aceh. Sinergi yang telah terbangun selama ini, akan ditindaklanjuti dengan kerja sama yang nyata. Salah satunya adalah memberikan kesempatan pelaku usaha Aceh untuk mengikuti misi dagang yang diselenggarakan Perwakilan Republik Indonesia di seluruh dunia.

Sebagai contoh, pengusaha anggota ASIA telah turut dalam kegiatan Melayu Day pada 7-9 Februari 2020 di Songkhla, Thailand, dan business matchmaking di Kuala Lumpur pada 26-28 Februari 2020. Kedua kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi dan penguatan kerja sama antara Kemlu dengan pemerintah dan pelaku usaha daerah.

Tidak kurang dari 16 peserta yang berasal dari delapan daerah turut serta dalam kegiatan ini. Di Thailand, pengusaha Aceh berhasil melakukan transaksi puluhan juta rupiah. Sedangkan di Malaysia, mereka berhasil mendapatkan mitra distributor di Kuala Lumpur dengan potensi business deals bernilai ratusan juta rupiah.

Semoga prestasi ini menjadi penyemangat untuk terus melebarkan sayap ke banyak negara. Sehingga, perekonomian di Aceh mampu meningkat demi mendongkrak kesejahteraan rakyatnya secara merata.

 



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP
   

Halaman 1 dari 5

Cari Artikel

Halaman Facebook