Minggu, 27 September 2020
   
Ukuran Teks

Jalan-jalan

Kisah Sepotong Surga di Bibir Pasifik

 

Pulau Morotai dijuluki sebagai ‘’mutiara di bibir pasifik’’. Pulau sekaligus Kabupaten ini menyimpan sejumlah potensi wisata dan ekonomi.

Indonesia terkenal dengan keindahan wisata baharinya di mata wisatawan domestik maupun internasional. Salah satunya adalah Morotai yang dinobatkan sebagai satu dari Sepuluh Bali Baru di tahun 2016.

Selain sebagai Bali baru, Morotai juga ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus oleh Pemerintah Pusat. Untuk mendukung status tersebut, Pemerintah Kabupaten Morotai mengembangkan visi pulau global. Sektor perikanan dan pariwisata akan menjadi penyokong visi Morotai sebagai pulau berwawasan global.

Letak Strategis Morotai

Morotai adalah sebuah nama pulau sekaligus kabupaten di Kepulauan Halmahera Provinsi Maluku Utara. Morotai dikelilingi oleh 33 pulau. Dari jumlah tersebut, hanya tujuh pulau yang berpenghuni. Secara geografis, letak Morotai merupakan sisi terdepan dari garis batas teritori Indonesia di sisi utara berbatasan Samudera Pasifik. Hal ini juga yang menyebabkan Morotai sebagai gerbang menuju Pasifik.

Morotai di masa lalu merupakan salah satu basis militer para Perang Dunia II. Jepang menjadikan Morotai sebagai basis militer sebelum direbut oleh tentara sekutu pada tahun 1944. Letaknya yang strategis membuat Morotai menyimpan sejarah Perang Dunia II.

Luas Pulau Morotai hampir sama dengan tiga perempatnya Pulau Bali. Tetapi, jumlah penduduknya hanya sekitar 67 ribu orang di tahun 2019, atau satu setengah persen dari jumlah penduduk Pulau Bali yang mencapai 4,2 juta orang.

Potensi Wisata

Bukan tanpa alasan Pemerintah menjadikan Morotai sebagai salah satu Bali baru. Morotai memiliki pantai-pantai yang memikat dengan pasirnya yang putih. Pulau ini surga bagi penikmat diving, snorkeling, dan berbagai olah raga air lainnya.

Untuk wisata pantai, pulau ini memiliki Pulau Dodola, Kolorai, dan Galo-Galo. Selain itu, ada juga Pasir Timbul, Pulau Kokoya, dan Pulau Rao yang sering dikunjungi turis.

Perlu diketahui juga bahwa Morotai merupakan rumah bagi satwa eksotis seperti ikan karang, paus, bahkan hiu. Para penyelam dapat melihat hiu dari dekat dan ikan yang berenang di antara reruntuhan bangkai kapal. Pemandangan indah terumbu karang juga dapat dinikmati oleh wisatawan yang tidak dapat berenang.

Letak Pulau Morotai yang strategis menjadikan pulau ini memiliki nilai sejarah sejak dahulu. Di Pulau ini dapat ditemui Museum Trikora, Museum Perang Dunia II, serta Monumen Jenderal Mc Arthur.

Meskipun Pulau ini kaya akan potensi wisata, jumlah wisatawan masih terbilang sedikit. Dinas Pariwisata Kabupaten Pulau Morotai mencatat wisatawan masih didominasi turis domestik pada tahun 2017 dan 2018.

Oleh karenanya, di tahun 2019, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mengundang social media influencer di bidang traveling dari negara-negara Asia Tenggara. Mereka diseleksi untuk mengikuti program Familiarization Trip atau Framtrip ke Morotai. Dengan menikmati keindahan Morotai secara langsung, mereka mempromosikan kenangan indah berwisata di Morotai melalui liputannya.

Potensi Ekonomi

Pulau Morotai memiliki kondisi geografis sebagai wilayah terdepan dan langsung berhadapan dengan jalur perdagangan internasional. Hal itu menjadikan Pulau Morotai memenuhi syarat sebagai Kawasan Ekonomi Khusus sesuai dengan UU 39 Tahun 2009.

Di peraturan tersebut tertulis, “KEK dikembangkan melalui penyiapan kawasan yang memiliki keunggulan geo-ekonomi dan geo-strategi dan berfungsi untuk menampung kegiatan industri, ekspor, impor, dan kegiatan ekonomi lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan daya saing internasional”.

Kawasan Ekonomi Khusus Morotai juga sesuai dengan Peraturan Pemerintah 50 Tahun 2014 terdiri atas: a. Zona Pengolahan Ekspor; b. Zona Logistik; c. Zona Industri; dan d. Zona Pariwisata.

Morotai juga punya potensi lain, yakni perikanan. Ada banyak tangkapan ikan di sini, terutama ikan tuna, cakalang dan tongkol. Berdasar data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) potensi tuna Morotai bisa mencapai 1,7 juta ton/tahun. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dapat teraktualisasi karena berbagai kendala.

Untuk mengatasi kendala yang ada, Pemkab Pulau Morotai berusaha meningkatkan kemampuan kapasitas nelayan dalam melakukan tangkapan di laut. Salah satu upayanya adalah mengoptimalkan koperasi nelayan. Selain itu, nelayan juga mendapat bantuan kapal dengan tonase yang memadai agar hasil tangkapan semakin banyak. Saat ini, di Pulau Morotai bisa mendapat tangkapan tuna dari jarak 3 mil saja.

Meskipun Pulau Morotai menyimpan begitu banyak potensi, kendala infrastruktur menjadi masalah lain di Pulau ini. Termasuk infrastruktur transportasi yang masih terbatas. Jika menggunakan AKSES laut hanya bisa menggunakan kapal feri dari Ternate yang memakan waktu 12 jam. Bisa juga menggunakan speed boat alias kapal cepat dari Sofifi menuju Ternate, yang hanya memakan waktu 1-1,5 jam. Untuk transportasi udara, hanya ada 1 kali penerbangan dari Ternate yang dilayani oleh Wings Air dengan kapasitas penumpang maksimal 72 orang.

 

Morotai adalah mutiara yang perlu terus dipoles agar potensinya memancar sehingga memberikan kesejahteraan kepada penduduknya. Dengan kolaborasi semua pihak termasuk Kemlu maka potensi tersebut akan dapat kita realisasikan. Status KEK dengan orientasi hasil yang terukur bisa menjadi jawaban untuk mewujudkan kesejahteraan bagi penduduk setempat.

 

 



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP
   

Halaman 1 dari 7

Cari Artikel

Halaman Facebook