Rabu, 28 Oktober 2020
   
Ukuran Teks

Jalan-jalan

Dubai: Surganya Belanja

Akhirnya kesampaian juga keinginan saya menginjakkan kaki di Timur Tengah. Perjalanan ini membawa saya ke Dubai, sebuah kota modern di sepanjang pantai selatan Teluk Persia Jazirah Arab dikenal dengan ‘Gateway between the east and west’. Kotanya para sosialita bekerja, belanja dan berlibur.

Saya tiba pukul 05.00 waktu Dubai, kota masih gelap, jalanan lengang, tidak banyak mobil tapi suasana metropolitan tetap terasa. Perbedaan waktu disini 3 jam lebih lambat dari Jakarta membuat saya sulit beristirahat. Saking semangatnya, rasanya sayang jika waktu terbuang hanya berdiam diri di kamar hotel, tapi apa daya hari masih sangat pagi. Pemandangan belakang hotel dari jendela kamar berbeda dengan yang saya lihat sebelumnya. Tidak ada jalanan besar, hanya beberapa bangunan, yang awalnya saya pikir mesjid, ternyata rumah penduduk lokal, sisanya masih pasir.

Dubai merupakan rumah bagi 1.9 Juta penduduk dari 200 kebangsaan, 85% penduduknya merupakan ekspatriat. Dubai memiliki infrastruktur yang modern, aman, udara nyaman dan terpenting… bebas pajak.

Ketika Anda pikir Anda sudah lihat semuanya,tunggu hingga Anda berada di Dubai. Semua serba baru, besar, tinggi, mewah dan modern. Selalu saja ada proyek dan pembangunan baru di Dubai.

Dengan bangunan pencakar langit yang sangat modern, tidak akan mudah untuk melupakan Dubai. Dahulu Dubai hanyalah sebuah kota kecil tempat pedagang suku Badui dari Arab. Namun sekarang kebudayaan kuno telah bercampur dengan kebudayaan baru menjadikan Dubai destinasi wisata paling menarik di Abad 21.

Pusat keramaian Dubai terletak di jalan Sheikh Zayed, tempat hotel bintang lima dan mall-mall besar berada, antara lain Deira City Centre, BurJuman, Ibn Battuta Mal dan Mall of the Emirates, tempat Ski Dubai, resort ski indoor pertama di Timur Tengah. Disini juga terletak Burj Khalifa, bangunan tertinggi di dunia yang mencapai 818 meter dengan 160 lantai. Anda bisa membeli tiket untuk naik sampai lantai 140 dan melihat pemandangan kota Dubai.

Untuk berkeliling kota Dubai, turis bisa naik taksi. Taksi yang bagus adalah yang atasnya berwarna merah. Jangan kaget, pengemudi taksi di Dubai memacu mobilnya cukup kencang. Mungkin karena jalanan lebar dan kosong. Bahkan bisa sampai 120 km/jam! Tentu saja membuat deg-degan.

Ada juga Dubai Mall, mall terbesar yang berada di Downtown Dubai bersebelahan dengan Burj Khalifa. Luasnya 50 kali lapangan sepak bola dengan lebih dari 1.200 toko yang beroperasi. Didalamnya kita bisa menikmati Dubai Aquarium, akuarium indoor terbesar di dunia, Dubai Ice Rink, lapangan es pertama yang berstandar Olimpiade di kawasan Timur Tengah, Oasis Fountain Waterfall, Air terjun buatan setinggi 24 meter, Candylicious, toko permen seluas 10 ribu meter persegi, bioskop dengan 22 studio dan deretan toko emas terpanjang. Dijamin bikin Anda mabuk kepayang!

Jika Anda senang berbelanja barang-barang branded, Dubai adalah tempat yang cocok. Saya belum pernah melihat butik Louis Vitton seramai di Dubai Mall. Butiknya dipadati pengunjung dari berbagai bangsa. Mereka tidak hanya lihat-lihat, tapi benar-benar membeli dan tidak hanya 1 tas. Seorang teman memang pernah bilang, bahwa sebuah tas LV di Dubai harganya bisa lebih murah sampai Rp. 5.000.000 dibanding di Jakarta.

Penggila barang branded juga bisa berkunjung ke Dubai Outlet Mall. Disini pusatnya outlet butik bermerek, yang menjual barang-barang koleksi lama dengan harga sangat miring. Sebut saja merek Burberry, Aigner, Banana Republic, Coach dan lainnya.

Selain berbelanja barang branded, satu hal yang tidak boleh dilewati adalah berbelanja emas, apakah itu emas batangan atau perhiasan emas. Anda harus datang ke Deira Gold Souq, pasar emas terbesar di dunia. Kenapa di Dubai? Karena konon emas Dubai mengandung tingkat prosentase 80% sedangkan di Indonesia rata-rata hanya 70%. Orang juga banyak belanja emas 24 karat di Dubai karena kadar prosentase 99.99%. Harga emas Dubai per gramnya sedikit lebih murah daripada di Jakarta.

Jika berbelanja membuat Anda kelelahan, Anda dapat menikmati indahnya pantai (buatan) di Jumeirah. The Palm Jumeirah merupakan sebuah pulau buatan yang dibangun dengan reklamasi tanah oleh Nakheel, sebuah perusahaan yang dimiliki oleh pemerintah Dubai. Pulau ini merupakan satu dari tiga pulau yang disebut The Palm Islands atau dikenal dengan Keajaiban Dunia ke-8. Hotel bintang tujuh paling mewah dan populer disana adalah Burj Al Arab, harga kamar termurahnya “hanya” USD 1.800. Eksteriornya yang menyerupai layar kapal laut, membuatnya menjadi ikon Dubai yang paling terkenal. Kebetulan waktu itu saya sempat datang dan berfoto di depannya, memang dari luar pagar karena hanya tamu yang boleh masuk. Lumayan lah.

Memang Dubai dikenal sebagai destinasi wisata mahal yang serba mewah, tapi kota ini juga memberikan pilihan bagi Anda yang memiliki budget terbatas. Untuk berkeliling kota Dubai, daripada naik taksi, Anda bisa menggunakan bis, abra (waterbus) dan metro (semacam skytrain) dengan tourist daypass yang harganya terjangkau.

Travelling tanpa belanja seperti makan tanpa minum, hukumnya wajib. Tapi kalau Anda tidak punya budget besar, bisa mencoba ke Satwa, Karama, Deira dan Bur Dubai. Pusat-pusat perbelanjaan produk elektronik, tekstil dan barang-barang kerajinan dari Timur Tengah dan India. Disana, banyak dijual pakaian dan souvenir khas Timur Tengah dan pashmina dengan kualitas terendah sampai terbaik.

Selain itu, juga ada Spice souq, pasar tradisional Timur Tengah dengan lorong-lorong sempit khas Arab, seperti di film Aladdin, menjual bumbu makanan, rempah-rempah, obat-obatan tradisional.

Suasana Arab jadoel berlanjut ketika Anda berkeliling sungai dengan perahu, di Dubai Creek. Menikmati pemandangan bangunan-bangunan tua dan hiruk pikuknya pedagang mengangkut dan menurunkan barang. Dubai Creek telah menjadi pusat perdagangan Emirat Arab sejak 100 tahun yang lalu.

Untuk akomodasi, tidak perlu menginap di hotel berbintang di pusat kota, tapi bisa juga di budget hotel yang rate nya Rp. 200.000 per malam. Anda bisa coba Easy Hotel atau Dubai Youth Hostel yang lokasinya tak jauh dari Dubai International Airport.

Cuaca Dubai memiliki perbedaan yang mencolok antara musim panas dan musim dingin. Saat musim panas (Juni-September), suhu udara pada siang hari bisa mencapai 45 derajat Celcius. Sedangkan pada musim dingin (Desember-Februari), suhu bisa di bawah 10 derajat Celcius pada malam hari.

Waktu terbaik untuk mengunjungi Dubai adalah sekitar November-Maret. Kalau berkunjung pada puncak musim dingin, pastikan Anda membawa jaket atau sweater supaya tetap nyaman saat berjalan-jalan. Kebetulan saya berkunjung di bulan Mei, jadi udaranya lumayan panas, dan mataharinya terik sekali. Jadi perbedaan cuaca di dalam gedung, yang memasang AC dingin dengan udara luar sangat ekstrem. Harus sering-sering minum air putih, kalau tidak mau dehidrasi!

Bagi saya, berada di Dubai seperti dalam cerita-cerita 1001 malam, versi modern. Pemandangan mesjid, bangunan kuno, orang-orang Arab berpakaian khas, para Sheikh dengan gamis putih bersih dan mobil mewah menghisap shisha bercampur dengan gedung-gedung pencakar langit, jalan protokol yang lebar, orang asing dengan dari berbagai bangsa. Perjalanan ini memberikan pengalaman yang tak terlupakan. Sampai bertemu lagi Dubai!



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP
   

Halaman 3 dari 7

Cari Artikel

Halaman Facebook