Minggu, 27 September 2020
   
Ukuran Teks

Success Story

Peluang dan Tantangan Kiprah PT. Mayora Indah di pasar Filipina

Perusahaan Indonesia perlu memiliki daya tahan dan inovasi dalam mengatasi tantangan dunia termasuk menghadapi kompetisi global seperti ungkapan pariwara terkenal “do not crack under pressure”.

 

Kondisi tersebut ditunjukkan PT Mayora Indah dalam menghadapi tantangan di Filipina. Di tengah tekanan, PT Mayora Indah melihat pasar Filipina masih sangat potensial. Secara umum, total perdagangan bilateral Indonesia dan Filipina pada tahun 2018 mencapai USD 7.8 Milyar. Neraca perdagangan bilateral menunjukkan surplus bagi Indonesia dengan nilai mencapai sekitar USD 5.9 Milyar di periode yang sama. Potensi pengembangan perdagangangan bilateral pun cukup menjanjikan ditunjukkan dengan ekonomi Filipina yang tumbuh dengan meyakinkan mencapai 6.8% pada tahun 2018 ditengah-tengah ketidakpastian dan pelemahan ekonomi dunia.

Seiring tingginya intensitas kerja sama ekonomi bilateral kedua negara, PT. Mayora Indah Tbk Indonesia memainkan peran penting dalam penetrasi pasar kopi instan Filipina, dengan ratarata nilai ekspor sebesar USD 600 juta per tahun. Adapun pasar untuk produk kopi instan di Filipina diperkirakan bertumbuh 5.8 persen per tahun, dengan nilai pendapatan US$ 5 miliar atau setara sekitar Rp 71 Triliun untuk tahun 2019 ini.

Kinerja dagang Mayora seolah terusik dengan pemberlakuan kebijakan Special Safeguards (SSG) Measures oleh Pemerintah Filipina pemerintah Filipina sejak 17 Agustus 2018. Kebijakan tersebut merupakan bentuk pengenaan bea masuk tambahan, yang berdampak negatif karena harga kopi instan Mayora akan menjadi lebih mahal dibandingkan produk kopi instan lokal di Filipina.

Bea masuk tambahan SSG yang dikenakan oleh Pemerintah Filipina terhadap Mayora mencapai sekitar 11% - 18%. Pemerintah Filipina menerapkan SSG untuk melindungi produk domestik dari produk serupa dari luar negeri mengingat produk lokal tidak kompetitif. Saat ini produsen pasar kopi instant di Filipina, terdiri atas PT. Mayora menguasai 35%, sementara Nestle menguasai 41%, dan Universal Robina Corporation (URC) menguasai 19% pangsa pasar.

Beberapa permasalahan terungkap dengan implementasi SSG ini. Bea Masuk tambahan yang dikenakan kepada Mayora Indah malah turut melukai chain of supply produksi kopi di Filipina yang mengakibatkan industri lokal secara total kehilangan pedapatan yang diperkirakan mencapai nilai lebih dari 7.8 miliar peso per tahun atau sekitar Rp 2 triliun per tahun.

Permasalahan terbesar yang dapat timbul dengan SSG tersebut adalah Mayora berpotensi kehilangan basis konsumen di Filipina, dan adanya kemungkinan Nestlé Filipina menguasai pasar kopi instan di Filipina. Tanpa peran Mayora Indah dalam persaingan kompetisi produk instan di pasar Filipina, Nestlé Filipina akan menjadi satu-satunya pemain besar di pasar produk tersebut. Hal ini dikhawatirkan akan mengakibatkan harga produk instan tidak lagi ditentukan oleh pasar dan tidak mengutungkan konsumen. Dalam hal ini, kehadiran Mayora di Filipina berperan penting mencegah monopoli harga, serta meningkatkan kompetisi pasar dan kualitas produk di Filipina.

Pihak Mayora menilai bahwa pemberlakuan aturan tersebut merupakan langkah yang tidak adil, yang ditujukan untuk perlindungan industri dalam negeri di Filipina. Hal ini mengingat Pemerintah Filipina tidak terlebih dahulu membuat kajian mengenai public interest dalam upaya pencegahan terjadinya tindakan monopoli dan manipulatif sebagai akibat pengenaan SSG. Hal ini dinilai tidak sejalan dengan aturan perundang-undangan Filipina “Republic Act 8800 (RA 8800)”.

Sebagai upaya Pemerintah Indonesia untuk mencegah pengenaan kopi instant Mayora masuk dalam SSG tersebut, Kementerian Luar Negeri bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan telah melaksanakan beberapa langkah negosiasi baik pada tingkat teknis, maupun tingkat menteri. Hasilnya, Pemerintah Filipina sempat mencabut SSG tersebut pada 6 Desember 2018, namun dalam perkembangannya pada tanggal 21 Desember 2018 kebijakan tersebut kembali diberlakukan. Meski terus mendorong Filipina untuk mencabut kebijakan tersebut, Pemerintah Indonesia juga menyarankan supaya Mayora membuka fasilitas produksi di Filipina.

Terlepas dari berbagai tantangan tersebut, semangat Mayora tidak surut untuk terus mempertahankan footprint di Filipina. Untuk mengatasi tantangan SSG dimaksud, Mayora bermaksud untuk berinvestasi melalui pembangunan fasilitas produksi di Filipina sebagaimana yang saat ini sudah dimiliki di Thailand, India, RRT, dan Denmark untuk produksi Denish Cookies. Untuk hal ini, Mayora juga menandatangani Memorandum of Understanding (Nota Kesepahaman) dengan Lima Land Inc. (LLI) terkait penyewaan properti untuk fasilitas Mayora di Malvar, Filipina. Pada 12 November 2018 lalu, Mayora juga menerima tawaran Filipina untuk membeli sebagian bahan baku kopi Filipina.

Rencana pembangunan fasilitas produksi Mayora Indah serta pembelian kopi produksi lokal merupakan strategi penting untuk terus memperkuat posisi Mayora di Filipina. Hal ini mencerminkan betapa Mayora tidak surut dengan berbagai tantangan yang dihadapi. Tantangan tersebut justru melahirkan peluang baru untuk investasi fasilitas produksi yang tentu diharapkan dapat memperkuat pasar Mayora di Filipina dan pengembangannya di tahun-tahun mendatang.

 



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! TwitThis Joomla Free PHP
   

Halaman 1 dari 3